Inspirasi Tolkien, JKR dan Roth

12194908_1007014332683692_8505296476587796062_o

PROSES MENULIS JRR TOLKIEN
(Penulis Novel The Lord of the Ring)

1. Berdasarkan surat-suratnya, Tolkien memberikan pengetahuan tentang bagaimana ia menulis. Misalnya, ia tidak pernah secara sengaja memikirkan secara detail tentang cerita yang ingin ia buat sebelum menulis. Namun, Tolkien hanya memiliki kilasan atau garis besar tanpa detail dari tulisan yang akan ia buat dan kemudian pada saat menulis cerita itu akan mengalir dengan sendirinya. Sebuah studi naskah Tolkien melakukan pengembangan cerita bersamaan ketika menulis. Tolkien menulis ceritanya dengan cara trial dan error.

2. Tolkien selalu mulai menulis dengan sebuah nama dari sebuah objek. Setelah itu kemudian dari nama tersebut Tolkien memulai bercerita tentangnya. Tolkien menemukan bahwa legenda bergantung pada bahasa dan sebaliknya. Pada dasarnya,Tolkien memulai menulis dengan nama dan benda-benda, seperti The Ring, Tolkien kemudian akan menentukan arti dari nama atau objek tersebut atau menciptakan sebuah dunia di mana objek berada.

3. Tolkien menggambarkan dirinya tidak mengarang, tetapi menunggu sampai ia “tahu” apa yang terjadi kemudian cerita itu mengalir bersama dirinya ketika menulis. Dia bersikeras bahwa ide cerita atau cerita itu sendiri muncul dalam pikirannya ”as given things”. Dalam sebuah wawancara, Tolkien mengatakan, ”cerita saya tampaknya tumbuh seperti kepingan salju di sekitar potongan debu”. Ketika ”as given things ” tumbuh dalam pikirannya, cerita akan memisah dan kemudian terjadi keterhubungan antar cerita dan berkembang. Dia menulis beberapa cerita secara utuh sedangkan yang lainnya dalam bentuk sketsa.

4. Pada saat menulis Tolkien seakan-akan masuk dalam cerita dan seringkali bertemu dengan karakter cerita. Tolkien mengatakan beberapa kali pada Clyde Kilby, professor bahasa Inggris dan seorang penulis di Wheaton College, bahwa ia telah diberikan cerita sebagai jawaban atas doa. Alih-alih menciptakan, ia merasa bahwa cerita yang ia tulis diungkapkan atau diilhamkan pada dirinya atau melalui dia. Tolkien hanya merekam, melaporkan, atau menemukan apa yang sudah ada. Tolkien berbicara tentang bukunya seperti sebuah kronologi kejadian yang sebenarnya bukan fiksi dan dirinya hanyalah sebagai sejarawan.

___

PROSES MENULIS JK ROWLING
(Penulis Novel Harry Potter)

Novel Harry Potter sempat mengalami ditolak oleh 14 penerbit, sampai akhirnya penerbit ke 15 menerimanya.

Saat ditanya apa rahasianya bisa menulis, Rowling menjawab,”Bacalah segala hal untuk mendapatkan gagasan bagaimana para penulis menulis. Membaca banyak-banyak. Membaca sungguh-sungguh . Bacalah sebanyak yang kau mampu. Membaca akan memberi pemahaman tentang cara menulis yang baik.”

Berikut ini beberapa ucapan Rowling dalam buku Kisah Sukses JK Rowling – di Balik Proses Penulisan Harry Potter :

“Bila aku berhenti menulis, aku merasa hidupku tidak normal.”

“Aku masih menulis dengan tulisan tangan. Aku suka secara fisik berada di antara kertas-kertas.”

“Sangat mengagumkan betapa banyak Anda berbuat sesuatu ketika Anda memiliki waktu yang sangat terbatas.”

“Aku masih terpesona bahwa aku berangkat dari seorang penulis tidak dikenal yang suka antre makanan gratis yang kemudian mempunyai buku-buku yang berada di puncak daftar. Hal ini benar-benar mengagumkan.”

“Aku ragu dapat menulis lagi cerita yang sepopuler Harry Potter.”

“Ketenaran adalah teman yang berubah-ubah.”

“Aku akan menulis sekalipun belum tahu akan diterbitkan atau tidak.”

___

PROSES MENULIS VERONICA ROTH
(Penulis Novel Divergent)

Veronica Roth membutuhkan 48 percobaan untuk menemukan ide yang cukup bagus.

Dalam buku FOUR – A Divergent Collection, Roth bercerita:

“Awalnya aku menulis Divergent dari perspektif Tobias Eaton, seorang bocah lelaki Abnegation yang mengalami masa sulit dengan ayahnya dan mendambakan bisa bebas dari faksinya. Aku mengalami kemacetan setelah menulis tiga puluh halaman karena naratornya tak cocok dengan cerita yang ingin aku kisahkan. Empat tahun kemudian, saat aku membaca kisah ini lagi, aku menemukan karakter yang tepat untuk mendorong kisah ini agar terus maju. Kali ini seorang gadis Abnegation yang ingin menemukan dirinya. Tapi, Tobias tak pernah menghilang – dia masuk ke cerita sebagai Four, instruktur, teman, kekasih, dan pasangan setara Tris. Four selalu menjadi karakter yang ingin aku kembangkan karena dia selalu terasa hidup bagiku saat dia muncul di tulisan. Dia sangat kuat bagiku terutama dari caranya terus mengatasi kesulitan, dan bahkan di beberapa kesempatan, dia justru berkembang karena kesulitan itu.”

___

Happy Reading – Happy Writing

Waktu

1273995_1029385157113276_4769354092204862806_o
Demi waktu yang terus berjalan
Ingatkan aku tentang kemanusiaan
Demi waktu yang tak mau berhenti
Ingatkan aku tentang empati
Demi waktu yang telah berlalu
Ingatkan aku tentang hari kelabu
Demi waktu di masa depan
Ingatkan aku tentang harapan
Demi waktu di masa kini
Ingatkan aku tentang yang hakiki
Demi waktu yang berarti
Ingatkan aku tentang mengerti
Demi waktu yang penuh rahasia
Ingatkan aku tentang menjadi manusia
Demi waktu yang kadang pikiran lalu lalang
Ingatkan aku tentang jalan pulang
Demi waktu yang tak bisa diputar kembali
Ingatkan aku tentang hati yang damai
Demi waktu di dunia yang adalah perjalanan pertama
Ingatkan aku tentang perjalanan selanjutnya yang kedua

Belajar Menulis Novel pada Roth

12046800_709402412526619_3807520874553569375_n (1)

foto dok. pribadi

DIVERGENT, INSURGENT, ALLEGIANT, FOUR

Dilihat dari segi apa pun, novel ini ok banget. Terutama ide ceritanya, saya suka. Orisinil. Jalinan konflik yang dbangun luar biasa, mengalir deras dari buku satu sampai buku empat. Membacanya serasa sedang berarung jeram.

Begitu membuka halaman pertama, kita diajak masuk ke dalam kehidupan Tris, gadis 16 tahun yang sedang mencari jati diri. Menyusuri halaman demi halaman dari buku satu sampai buku empat, rasanya seperti menyusuri ke kedalaman diri sendiri. Apakah kita lebih dominan murah hatinya seperti faksi abnegation. Apakah kita memiliki keberanian setangguh faksi dauntless. Ataukah kita dominan jujurnya seperti faksi candor. Ataukah kita secerdas kaum intelektual seperti faksi erudite. Ataukah kita cinta kedamaian seperti faksi amity. Atau ada keseimbangan unsur-unsur karakter tersebut dalam diri kita seperti divergent. Atau kita lemah dalam semua unsur karakter tersebut hingga masuk kategori factionless. Dimanapun posisi kita, yang pasti tak seorang pun bisa lepas dari yang namanya risiko.

Karya Veronica Roth ini (sejauh ini) merupakan kiblat saya dalam menulis novel serial. Sambil menyelami jalan cerita tokoh-tokoh di dalamnya, saya mempelajari teknis penulisannya. Bagaimana mengenalkan tokoh-tokoh. Bagaimana menunjukkan karakter tokoh melalui dialog. Bagaimana menarasikan setting. Bagaimana menciptakan konflik demi konflik beserta penyelesaiannya. Bagaimana memberikan risiko pada setiap pilihan hidup si tokoh. Bagaimana membuat plot yang runut dan bagaimana agar terdapat benang merah satu kesatuan yang padat dari buku pertama sampai buku terakhir. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Saya bersimpati pada tokoh utamanya, Tris dan Four. Mereka pasangan yang setara. Sampai sekarang masih sedih karena pada akhirnya Tris dibuat meninggal.

Tapi walau bagaimana pun, gak nyesel baca novel ini. Keren abis. Bintang lima deh (y) (y) (y) (y) (y)

11850758_933501676696094_4844333445241599395_o

Keep Calm and Write a Novel

22.Membaca Ulang dalam Proses Editing21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing |16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop| 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi| 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline|8.Timeline |7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan |5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending|2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Hari Ketiga-2

Kisah sebelumnya: Hari Ketiga

2-12

>>>

Sampai di sini aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Diandra mempunyai interpretasi yang begitu buruk tentang orangtuanya. Tapi, mungkin aku baru baca seujung kuku dari keseluruhan isi buku ini. Jadi sebaiknya aku tidak perlu buru-buru menyimpulkan sesuatu.

Aku sudah tiga kali menguap. Mataku sudah pedas. Aku harus tidur. Kututup buku Diandra dan kutarik selimut. Kupejamkan mata dan berharap segalanya akan berjalan baik esok hari.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu menerjang dengan hebat. Air. Gelombang air yang dahsyat menerjang perahu kecil. Di dalam perahu kecil yang terombang-ambing di tengah lautan luas itu ada aku dan Fedy. Kami berusaha tenang dan menjaga keseimbangan di tengah ketidakberdayaan. Fedy terus mengayuh, sementara aku mengeluarkan air dari perahu hanya dengan dua telapak tangan. Tak ada alat sama sekali di dalam perahu.

Gelombang menerjang lagi dan perahu terlalu kecil. Kami terpelanting ke dalam lautan, bersusah-payah bergelantungan pada perahu yang terbalik. Aku tidak bisa berenang dan lautan ini seperti tidak bertepi. Aku akan terseret ombak, tenggelam dan mati. Fedy meraih tanganku, menggendongku dan mengangkatku ke atas perahu yang terbalik, sementara ia berpegangan pada ujung perahu.

Untuk ketiga kalinya gelombang itu datang lagi tanpa bisa dihindari. Tanganku menggapai-gapai, tapi aku tetap berada di tengah air, meminum terlalu banyak air. Di mana Fedy. Ia tak terlihat dalam pandangan mataku. Aku tahu ini mimpi. Aku berusaha bangun tapi tidak bisa.

Detik berikutnya aku sudah berada di suatu tempat yang asing yang kiri kanannya hanya ada pepohonan. Aku berdiri di punggung bukit dan di depanku terhampar jalan terjal panjang dan berliku. Aku sendiri. Tanpa Fedy. Aku berteriak-teriak menyebut namanya. Tak ada sahutan. Aku berlari dan terus berlari hingga aku tak bisa berlari lagi. Aku terpuruk di tepi jalan, berharap ada mobil yang lewat dan aku bisa menumpang.

Satu jam dua jam tiga jam tak ada tanda-tanda akan ada kendaraan yang lewat. Matahari begitu terik di atas kepala. Panasnya begitu menyengat. Aku lemah, haus dan kelaparan. Antara sadar dan tidak sadar, aku berharap Fedy baik-baik saja di suatu tempat.

Aku terbangun dengan keringat dingin di sekujur tubuh. Rasanya sangat letih, seperti baru saja menggendong gunung di atas pundakku. Kuambil posisi duduk dan masih terpana dengan mimpi itu. Aku mengucap syukur dalam hati. Itu hanya mimpi. Kuraih ponsel di samping bantal. Waktu menunjukkan jam lima pagi. Aku tak bisa menahan diri untuk menelepon Fedy saat ini juga.

Di seberang sana, Fedy menjawab teleponku dengan suara yang masih mengantuk.

“Sorry ganggu tidurmu,” aku merasa bersalah.

“Gak apa, Sayang. Ada apa,” suara Fedy masih tetap seperti orang yang dipaksa bangun dan bicara seketika.

“Gak ada apa-apa,” aku ragu.

“Gak ada apa-apa?”

“Mm Fedy… apa yang paling kamu takutkan dalam hidup ini?”

Hening beberapa saat sampai akhirnya Fedy menjawab, “Kehilangan kamu.”

Refleks mataku terpejam dan aku menggigit bibir. Antara terkejut dan terharu aku mendengar pengakuannya itu.

“Ada apa kamu pagi-pagi begini?” suaranya yang berat terdengar lagi di telingaku.

“Sebenarnya nggak ada apa-apa.”

“Kalau kamu, apa yang paling kamu takutkan?”

“Kehilangan kamu,” jawabku tanpa ragu.

“Sayang, kita akan selalu bersama. Aku akan selalu ada untukmu.”

“Iya aku tahu.”

“I love you.”

Aku masih termangu setelah pembicaraan dengan Fedy di telepon berakhir. Tanpa bisa dicegah, pikiranku beralih begitu saja pada Diandra. Aku pikir aku bisa merasakan kesakitan yang sedang dideranya. Dia harus merasakan kesakitan itu selama enam tahun lamanya. Dan entah sampai kapan.

Kupaksa kakiku melangkah menuruni tangga. Dari kejauhan kulihat Diandra duduk di ruang baca sedang mengamati foto-foto yang berserakan di meja. Aku mendekatinya.

“Kalau ini gimana menurutmu?” kata Diandra menunjuk sebuah foto perempuan muda tanpa menoleh ke arahku.

Yang berserakan di meja itu foto-foto aktor dan aktris yang mengikuti kasting untuk memerankan tokoh Moreno dan Diandra.

Kuperhatikan foto yang ditunjuk Diandra. “Secara fisik, memang ini yang paling mendekati kemiripan dengan kamu. Tapi, aku perlu melihat videonya.”

Diandra memutar video yang menayangkan si aktris sedang berdialog dengan aktor yang diplot sebagai Moreno.

“Bahasa tubuhnya kurang ok. Kurang natural,” komentarku.

“Aku pikir juga begitu. Tapi, cara berbicaranya lumayan. Aku akan minta Jimmy melakukan kasting ulang,” Diandra mematikan video dan kembali melihat-lihat foto yang berserakan.

Dia memperhatikan satu foto pria muda yang pembawaannya mirip Moreno. “Aku suka ini. Tatapan matanya seperti tatapan mata Moreno.” Diandra memutar video kastingnya dan kita menonton bersama.

“Yang ini karakternya kuat. Moreno banget,” kataku.

Diandra tersenyum samar. Matanya mengatakan ia setuju dengan pendapatku.

“Apa rencanamu hari ini?” kurapikan foto-foto yang berserakan menjadi satu.

“Aku akan membawamu ke beberapa tempat yang pernah kudatangi bersama Moreno.”

“Wow,” aku merasa sangat bersemangat.

“Mungkin perlu waktu tiga minggu. Persiapkan dirimu.”

“Oke.”

Aku menahan diri untuk tidak bertanya ke mana ia akan membawaku. Biarlah itu menjadi kejutan. Tapi ternyata aku tak perlu menunggu lama, karena Diandra cepat menjelaskan. Ia tidak akan membawaku ke tempat-tempat yang indah di berbagai belahan dunia yang pernah ia kunjungi bersama Moreno. Diandra akan membawaku ke tempat-tempat terpencil di dalam negeri yang masyarakatnya masih termarginalkan.

“Di tempat-tempat itu, Moreno membukakan mataku, betapa banyak hal yang bisa kulakukan dengan uang ayahku. Betapa banyak hal yang bisa kulakukan untuk membuat diriku berguna,” suara Diandra terdengar melayang. Matanya redup. Seperti tak ada hasrat, tapi ia berusaha untuk terus hidup.

“Kapan kita berangkat?” ini pasti akan menyenangkan.

“Nanti sore jam empat..”

“Sebelum berangkat, bolehkah aku menemui adikku?”

“Pergilah.”

Aku senang mendengar jawaban Diandra. Ternyata dia tidak sedingin yang kupikirkan. Kuucapkan terimakasih, berlari ke dalam kamar, menyambar tas dan melesat bersama ‘si hitam’ menuju sekolah Zakia. Sekarang jam sembilan, sebentar lagi waktu Zakia istirahat.

Dari tempat parkir, sambil menenteng bungkusan roti dan es krim, aku melangkah begitu saja menuju lapangan yang dikelilingi taman. Riuh rendah sorak sorai bergema, dan kulihat Zakia berlari di tengah lapangan sedang main basket. Aku merangsek di antara kerumunan, mendekati posisi Zakia sambil melambaikan tangan. Zakia melihatku. Matanya berbinar-binar. Tapi, lima belas menit kemudian pertandingan berakhir dan Zakia berjalan ke arahku dengan wajah kecewa. Timnya kalah.

“Zakia emang gak ditakdirkan jadi pemain basket,” katanya lesu begitu duduk di bangku di taman.

“Zakia ditakdirkan jadi pemain piano,” kataku sembari memberinya sekotak es krim.

Wajah lesu Zakia berangsur ceria. “Kak Fedy mana?”

“Ada pekerjaan. Gak bisa ikut.”

“Zakia pengin pulang, Kak. Gak enak tinggal di asrama.”

Aku tahu, asrama mengingatkan Zakia pada tsunami yang membuatnya kehilangan seluruh anggota keluarganya.

“Iya. Sebulan lagi kakak jemput Zakia dan kita kembali ke kehidupan yang normal.”

 

*bersambung

Hari Ketiga

Kisah sebelumnya: Malam Amal-2

2-12

4

“Apa yang kamu akan lakukan setelah ini?” kataku pada Diandra sesaat menunggu penjaga rumah membuka pagar.

Diandra menggeser letak duduknya dan kini menghadap tepat ke mataku. “Kalau aku banyak bicara denganmu hari ini, bukan berarti kamu bebas bertanya apa saja setelah itu!” suaranya pelan dan tajam.

“Bukankah bertanya adalah bagian dari tugasku,” kupikir ia lupa untuk apa membayarku dan menyuruhku tinggal di rumahnya.

“Dengar! Aku akan memberitahumu apa yang kamu perlu tahu.”

Bibirku terkatup rapat. Lebih baik aku diam.

Diandra tidak bicara apa-apa lagi hingga tubuhnya hilang ditelan kamarnya.

Aku pun bergegas ke kamarku di lantai atas.

Saat menaiki tangga, tengkukku terasa dingin. Ini hari ketiga aku di rumah Diandra. Dan rumah ini tetap saja rasanya terlalu lembab.  Langkah kakiku terhenti saat kudengar sebuah suara… suara ketukan, seperti ketukan di pintu. Tapi, dari mana asal suara itu. Tiga kali ketukan kemudian lengang. Aku berjalan lagi, dan kembali terdengar ketukan lagi. Aku berhenti dan lengang. Tak ada suara apa-apa. Dengan menahan napasku yang naik-turun tak beraturan, aku berlari dan cepat-cepat menghambur ke dalam kamar.

Kubuka jendela. Angin berhembus lembut ke dalam kamar. Mungkin itu tadi suara angin yang menabrak sesuatu, kuhibur diriku sendiri.

Kutelepon Fedy untuk mencari tahu apa yang terjadi di acara amal setelah Diandra pergi.

“Bu Malika tampil ke podium, dan atas nama Diandra mengambil alih acara anaknya,” cerita Fedy, “Bu Malika juga memberikan sambutan terakhir sebelum acara ditutup. Ia sangat bangga pada Diandra. Ia membuat beberapa lelucon, tapi anehnya tak ada yang tertawa.”

“Oh ya,” hanya itu yang meluncur dari bibirku.

“Kenapa? Ada yang tidak beres?”

“Mungkin. Tapi, aku tidak tahu apa,” kuusap-usap tengkukku yang masih saja terasa merinding.

“Fedy…,” aku ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.

“Apa?”

“Kamu percaya hantu itu ada?”

“Kamu kenapa?”

“Enggak. Lupakan saja. Aku salah bertanya. Tolong tidak usah dijawab, karena itu akan membuatku semakin takut. Sudah ya, kamu habis ini langsung pulang, kan?”

“Enggak.”

“Ada apa?”

“Teman-teman ngajak main biliar.”

“Oh ok.”

Kumatikan telepon lalu ke kamar mandi untuk membasuh wajah.

Deg!

Jantungku rasanya berhenti berdetak.

Saat menatap cermin, kulihat bayangan wajah Moreno di belakangku. Seraut wajah Moreno seperti yang terdapat di foto dinding. Kututup mata lalu kubuka mata, kulihat wajahku sendiri di cermin.

Ini tidak benar. Aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Kuyakinkan diriku sendiri itu tadi hanya pikiranku, atau pengaruh film horor yang pernah kulihat. Kualihkan perhatianku pada setumpuk buku harian Diandra. Kuambil satu, membukanya secara acak, dan terbaca olehku:

 

>>>

Kupikir papi punya bakat seorang aktor yang hebat. Ia bisa meyakinkan perempuan-perempuan hingga perempuan-perempuan itu merasa dirinyalah satu-satunya yang paling berarti buat papi. Papi selalu bisa membuat perempuan-perempuan itu dengan senang hati berkorban untuk dirinya. Papi bisa membuat perempuan-perempuan itu saling cakar dan saling jambak seolah dirinya pria yang pantas diperebutkan. Perempuan itu termasuk mami.

Mami selalu percaya, perempuan-perempuan itulah yang mengejar-ngejar papi. Dan mami dengan bangga memposisikan dirinya sebagai pelindung papi. Tapi dalam waktu bersamaan, tak jarang mami melampiaskan kesalnya padaku. Aku yang berwajah sangat mirip papi menjadi tempat amarahnya.

Ketika usia tujuh tahun, badanku sedang gemuk. Kalau sedang marah entah karena apa, mami memanggilku sapi gembrot, kadang sapi hamil. Dan dia akan mengomel sepanjang hari.

Papi dan mami sering berselisih paham. Mereka bukan hanya bertengkar mulut. Tak jarang mereka juga bertengkar secara fisik. Kalau sedang bertengkar, kadang berhamburan kata-kata cerai. Tapi anehnya, mereka selalu bersama. Dan mereka sangat pandai bersandiwara di depan orang-orang, seolah mereka saling cinta dan menyayangi.

Suatu malam dari balik pintu, aku menguping pembicaraan mami-papi. Mereka berhadap-hadapan dengan wajah saling menantang.

“Kamu tahu sejak awal. Aku ya begini,” papi diam sejenak lalu melanjutkan, “kamu tahu Lena, kan?” papi menyebut nama seorang tetangga yang suka memakai pakaian sangat terbuka yang rumahnya sering kedatangan tamu laki-laki yang berbeda-beda.

“Apa gaya hidup Lena itu bisa dibilang lurus?” kata papi seolah tidak membutuhkan jawaban. “Tapi, apa Lena bisa dibilang bukan orang baik? Ya itulah aku,” papi mengatakan itu dengan biasa saja.

“Kamu manusia sombong!” serang mami.

“Dimana sombongnya?” ucap papi dengan santai.

“Kamu manusia munafik!” serang mami lagi.

“Dimana munafiknya?” papi mengatakan itu dengan nada yang datar saja.

Mami membanting gelas dan berlari ke garasi. Aku mengejarnya dan memegangi tangannya, memohon-mohon agar ia tidak pergi, tapi mami mengibaskan tanganku dengan kasar. Itulah terakhir kali aku melihat mami. Ternyata itulah puncak kemarahan mami. Dia pergi dengan dirinya sendiri. Dia tidak mempertimbangkan aku.

Ketika bertemu mami, papi adalah seorang duda yang masih muda. Dan untuk kedua kalinya, papi menduda lagi. Dan untuk ketiga kalinya, papi menikah dengan seorang perempuan yang sangat kaya dari kalangan bangsawan. Istri ketiganya inilah yang membuka jalan-jalan sukses hingga papi dikenal sebagai seorang konglomerat hingga akhir hayatnya. Kupikir papi seorang pecundang yang beruntung.

Mereka menempati rumah besar dan megah, tapi tidak cukup untuk menampungku. Dengan alasan demi kebaikanku, papi mengirimku ke asrama. Apapun alasan sebenarnya yang tersembunyi, aku memang lebih suka tinggal di asrama. Dan aku tak mau kembali ke rumah itu.

Hingga sesuatu yang tidak kusangka-sangka terjadi saat usiaku 17 tahun. Papi dan istri ketiganya tewas dalam kecelakaan pesawat terbang.

Pengacara papi menemukan sepucuk surat wasiat yang menyatakan bahwa seluruh harta benda kekayaan papi adalah milikku yang bisa kugunakan kalau aku sudah berusia 30 tahun. Entah kenapa harus menunggu aku berusia 30 tahun. Surat wasiat yang memicu kebencian saudara tiriku yang memilih tinggal di Perancis.

Mami datang ke asrama, tapi aku tak mau menemuinya. Melalui pengasuh asrama, aku tahu mami memintaku untuk tinggal bersamanya. Aku diam saja. Yang aku tahu, aku tak pernah mendatangi alamat mami yang dititipkan pada pengasuh asrama. Mamiku yang merasa dirinya paling suci, paling bersih, yang merasa tak punya dosa dan sah-sah saja mengabaikan aku anaknya.

Aku tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri, dan pada saat bersamaan aku juga pintar mengomentari apa saja di sekelilingku. Aku menyalahkan papi, menyalahkan mami. Semua hal tampak salah di mataku.

Teman-teman di sekolahku menyebutku si ratu nyinyir. Mereka tidak tahu, di balik kenyinyiranku, aku disergap ketakutan setiap waktu. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menikah apalagi punya anak. Aku tidak mau menyandang gelar istri yang gagal apalagi ibu yang gagal.

*bersambung

Malam Amal-2

Kisah sebelumnya: Malam Amal

2 (1)

3A

Mereka mengambil posisi sesuai peran masing-masing. Fedy tampak macho dengan penggebuk drum di genggaman. Seperti pertama kali aku melihatnya ketika sedang latihan ngeband di studio. Peter mengucap salam dan menyanyikan Senyummu, lagu pesanan Diandra.

 

Kamu tahu apa yang terindah dari dirimu?
senyummu
senyummu lebih indah dari senyum monalisa

bukan kali ini saja aku melukis senyum perempuan
telah sekian kali pernah kulakukan
namun denganmu
itu berbeda

aku tak pernah bisa melukis senyummu hanya lewat mataku saja
tiap goresan kuas
selalu terasa kurang pas

berulang kali aku mencoba
berulang kali pula kugagal melukis senyummu

ada apa dengan kemampuan melukisku?
sudah tumpulkah daya kreasi seniku?
ataukah kedalaman dirimu yang tak pernah bisa dilukis siapapun,
jika hanya melihat batas tipis bibirmu?

hingga hampir ku putus asa
sebelum akhirnya aku menutup mata

dan mencoba menggerakkan tanganku menggoreskan kuas pada kanvas
aku biarkan tanganku bergerak sendiri dengan tuntunan hati
lalu ku buka mata

dan berhasil
aku berhasil sayang

ternyata untuk melukis senyummu
tak cukup hanya dengan mata fisik saja
melukis dirimu diperlukan mata batin
diperlukan hati untuk menyelami kedalaman dirimu

dan sejak itu aku tahu
kau memang sebuah lukisan yang tak pernah selesai seumur hidupku

 

Aku menoleh ke arah Diandra. Dia menatap lurus ke panggung, seperti tegang atau terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia larut bersama nyanyian yang dibawakan Peter dengan suaranya yang lembut dan jernih. Petikan gitar Leo membuat nuansa menjadi dramatis.

“Itu lagu kesukaan Moreno,” desis Diandra. Wajahnya begitu datar hampir tanpa ekspresi. Sulit menembus ke kedalamannya.

Hmm ya ya aku mengerti. Tapi, entahlah. Mungkin aku tidak benar-benar mengerti. Kursi di sebelah kanan Diandra tetap kosong, mengingatkanku pada kursi di meja makan di rumahnya yang ia sebut sebagai kursi Moreno. Aku masih tidak habis pikir, sekian lama ia hidup dengan bayang-bayang Moreno. Mungkin aku harus berhenti dengan perspektifku sendiri, dan ikut saja ke mana jalan pikiran Diandra. Aku harus melepaskan standar-standar yang menurutku normal.

Fedy n Friends meninggalkan panggung. Berikutnya adalah tari-tarian yang disusul dengan acara lelang empat lukisan Diandra-Moreno. Lukisan pertama menggambarkan Moreno dan Diandra sedang berkuda. Lukisan kedua Moreno dan Diandra dengan mobil balapnya. Lukisan ketiga Moreno dan Diandra di dalam sebuah kapal pesiar. Lukisan keempat Moreno dan Diandra sedang berdansa.

Acara lelang berlangsung semarak. Dibuka dengan harga dua miliar rupiah untuk satu lukisan. Di antara mereka bergantian angkat tangan sambil menyebut angka yang terus meninggi dan terus meninggi. Sampai akhirnya semua orang terperangah mendengar utusan pangeran dari Brunei memborong empat lukisan dengan nilai empat triliun rupiah.

Diandra tampak puas dan bercakap-cakap cukup lama dengan utusan sang pangeran itu.

Tapi, mendadak Diandra melengos dan berjalan cepat ketika seorang perempuan datang. Perempuan itu tak lain adalah Malika, ibu kandungnya sendiri. Malika tampak anggun dengan kain dan kebaya. Namun, keanggunan itu tersapu oleh garis tegak lurus di wajahnya. Ia terus memandangi punggung Diandra yang semakin menjauh.

Aku berjalan cepat di antara kerumunan orang-orang yang sedang menikmati hidangan, menyusul Diandra menuju lobby.

Aku berdiri di sebelah Diandra saat ia sedang menelepon supirnya.

“Kenapa?” tanyaku begitu ia menutup telepon.

“Kamu tahu aku membencinya.”

“Aku tidak tahu.”

“Berarti kamu belum membaca buku harianku.”

“Oh. Aku baru baca sebagian.”

Sebuah limusin berhenti. Diandra masuk ke jok belakang. Aku duduk di sebelahnya.

“Perempuan itu merusak suasana hatiku. Aku tidak mengharapkan kehadirannya,” Diandra menggerutu di tengah perjalanan.

“Aku tidak tahu kalian punya masalah apa. Tapi, bagaimana mungkin kamu meninggalkan acara sepenting ini begitu saja.”

“Tujuan utamanya sudah tercapai. Acara sudah selesai.” Kemudian Diandra bercerita uang hasil lelang lukisan akan disumbangkan ke lembaga internasional untuk membantu orang-orang Suriah yang mengungsi ke Eropa.

“Kamu melakukan hal-hal baik. Di sisi lain, kamu memelihara permusuhan dengan ibumu sendiri? Aku sungguh tidak mengerti.”

“Bukankah memang banyak ironi di dunia ini,” Diandra seolah tak peduli. “Lagipula aku melakukan ini karena Moreno.”

“Karena Moreno?”

“Aku melakukan hal-hal yang ia sukai. Aku menyimpan benda-benda untuk memelihara ingatanku tentangnya.”

“Apa saja yang disukai Moreno?”

“Ya ini salah satunya. Menjalin pergaulan untuk acara amal. Sesuatu yang tak pernah kulakukan sebelum aku bertemu dengannya.”

“Tentang ibumu?”

“Baca saja buku harianku. Sebab itu bagian hidupku yang paling kubenci.”

“Dia melakukan apa, sehingga kamu begitu benci?”

“Apa kamu bodoh atau apa?”

“Sorry… tapi, dia ibumu.”

“Dia disebut ibu hanya karena melahirkanku. Tidak lebih dari itu.”

Selanjutnya hening.

Telepon genggamku berdering. Panggilan masuk dari Fedy.

“Aku mencarimu,” suara Fedy di ujung sana.

“Aku harus pergi,” kataku setelah menengok sepintas ke arah Diandra. Detik berikutnya kututup telepon. Kemudian aku menulis pesan untuk Fedy, menjelaskan situasinya.

“Orang-orang pasti mencarimu,” kataku pada Diandra.

“Tidak seserius itu. Pada dasarnya orang-orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka datang dengan membawa kepentingan masing-masing. Sebenarnya sebagian dari mereka sangat memuakkan.”

“Buat ibumu, mungkin kamu juga sangat memuakkan. Sorry, bukan kamu, tapi sikapmu.”

Diandra diam. Sepertinya ia tidak tersinggung.

“Mungkin,” katanya dengan malas.

“Bukankah kita harus menghormati seorang ibu? Bahkan kita harus mengangkat derajat seorang ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah?” tiba-tiba terlintas nasehat yang pernah kudengar dari Bu Fauziah.

“Aku sudah sering mendengar hal semacam itu. Itu normatif. Basi,” suara Diandra terdengar begitu dingin.

“Basi tapi benar.”

Diandra menengok ke arahku. “Apa kamu tidak pernah bertengkar dengan ibumu?”

“Pernah. Tapi, itu bukan alasan untuk membencinya.”

“Andai kau tahu situasi yang kuhadapi di masa-masa itu.”

“Situasi seperti apa?”

“Kamu perlu tahu. Aku bukan hanya membenci ibuku, aku juga membenci ayahku. Ah sudahlah. Ini benar-benar hari yang buruk.”

“Tak ada hari yang buruk,” aku mendebatnya.

“Buatku ini hari yang buruk.”

“Kamu baru saja mendapatkan empat triliun dan kamu bilang ini hari yang buruk?”

“Itu bukan untukku.”

“Tapi, Tuhan mengalirkah berkah itu melalui kamu,” aku mendadak bijak.

Diandra diam.

“Benar kata Bu Fauziah. Kadang manusia sibuk meratapi satu dua kesedihannya hingga lupa menghitung berjuta berkah yang mengelilinginya.

“Siapa Bu Fauziah?”

“Dia seseorang yang kujumpai suatu hari. Sudah seperti ibuku sendiri. Aku bisa main ke rumahnya kapan saja aku mau.”

“Kamu sungguh beruntung.”

“Kamu juga. Begitu banyak berkah yang kamu terima, Diandra. Bagaimana mungkin kamu membenci orangtuamu?”

“Kamu terlalu naif, Vivian. Sudahlah. Aku membenci pembicaraan ini.”

“Bagaimana kamu bisa hidup dengan begitu banyak kebencian di dalam dada?”

“Moreno yang membuatku tetap hidup.”

“Moreno. Selalu Moreno.”

“Kamu bertanya. Ya itulah jawabanku. Apa aku harus menjawab sesuai harapanmu?”

“Tentu saja tidak.”

“Bagus.”

Rasanya aku tak sabar ingin cepat sampai rumah. Ingin segera membaca buku harian Diandra sampai tuntas. Tapi, jalanan padat merayap. Di sebelah sana, penumpang berdiri berdesak-desakan di dalam bus. Sementara banyak mobil pribadi yang hanya diisi satu, dua dan tiga orang. Betapa tidak adilnya keadaan ini. Tapi, inilah kenyataan. []

*bersambung

 

Malam Amal

Kisah sebelumnya: 30 Hari di Rumah Diandra-2

2 (1)

3

“Senang sekali bisa menghadiri acara amal yang dibuat oleh Anda, Nyonya Moreno,” seorang perempuan 50 tahunan, ramping dan enerjik dalam kebaya modern dengan rambut disasak tinggi tersenyum lebar dan menjabat tangan Diandra.

Caranya memanggil Diandra yang menarik minatku. Nyonya Moreno. Semua orang di acara amal, atau lebih tepatnya private party? Memanggil Diandra dengan sebutan Nyonya Moreno. Dan tiap kali nama itu disebut, mata Diandra berbinar-binar. Ia tampaknya sangat menikmati pemujaan itu.

Acara amal semacam ini digelar Diandra tiap tahun untuk memperingati hari jadiannya dengan Moreno. Hari jadian? Hari jadi berpacaran? Aku pun tak ingat tanggal berapa persisnya aku jadian dengan Fedy. Diandra sangat perhatian pada kalender, terutama menyangkut tanggal-tanggal yang dianggapnya penting bersama Moreno.

Banyak tanggal yang ia rayakan dalam setahun. Hari lahir dan hari pernikahan adalah hal biasa. Yang membuat dahiku mengernyit, dia juga memperingati hari kencan pertama, hari makan malam pertama, hari liburan pertama, dan hari-hari pertama lainnya. Diandra mencatat itu semua dalam buku harian.

Ballroom ditata sedemikian rupa dan apik dengan bebungaan, dan empat lukisan Diandra-Moreno dalam berbagai pose berukuran super besar menghiasi sudut-sudut ruangan. Diandra mengundang seribu orang. Wow, Diandra ternyata orang yang berpengaruh dan tampak sangat dihormati. Ia mengumpulkan teman-teman dari kalangan pengusaha, atlet, akademisi, peneliti, politisi.

Seseorang dengan kedua tangannya menyentuh bahuku dari belakang. Satu detik terkejut, detik berikutnya aku mengenali sentuhan itu. Sentuhan yang menenangkan. Bahkan tanpa sentuhannya itu pun, ia membuatku tenang. Aku membalik badan dan menemukan Fedy dengan senyumnya.

“Kenapa kamu ada di sini?” spontan kata-kata ini yang meluncur dari bibirku. Fedy memakai pakaian resmi, jas dan dasi.

“Diandra mengundang Fedy n Friends,” Fedy menyentuh jemariku dan membawaku berjalan ke pintu samping menuju sebuah ruangan di belakang panggung.

“Kamu tidak cerita?”

“Undangan mendadak. Tiga jam yang lalu.”

“Bagaimana bisa?”

“Buktinya bisa.”

Kami berjalan melewati ruang-ruang terbuka yang terang dengan banyak cermin. Semua orang bergerak sesuai perannya. Penata rias sibuk merapikan make up seorang model. Seorang penari yang sudah rapi, mematut-matut diri di depan cermin.

Acara ini lebih besar dari yang kubayangkan. Ada pertunjukan musik, drama musikal, tari-tarian. Kemeriahan yang aku tidak terlalu bisa menikmatinya.

Sempat terlintas di pikiranku, kenapa tiba-tiba Diandra melibatkan Fedy n Friends. Tapi, mungkin itu bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan. Yang pasti, aku senang ada Fedy di sini.

Aku tidak menyangka, Diandra yang kupikir tertutup ternyata luas pergaulannya. Dia pasti sudah jauh-jauh hari menyiapkan ini semua. Apa setiap memperingati tanggal-tanggal yang sentimental, Diandra selalu menggelar acara semewah ini?

Di tengah ruangan, teman-teman Fedy duduk melingkari sebuah meja. Semua memakai kostum yang sama dengan Fedy. Oh tidak, Leo tak mau meninggalkan kenyentrikannya. Ia memakai jas dan sarung. Perpaduan yang ah no comment lah. Tapi, seru aja sih kalau Leo yang pakai.

Peter tampak lebih kurus dari terakhir yang kulihat. Matanya seperti lelah, mungkin kurang tidur. Di balik tawanya, sepertinya ia menyimpan masalah, drama cinta yang berputar-putar tak kunjung usai. Aku menilainya dengan sok tahu, hanya berbekal referensi cerita-cerita yang kudengar dari Fedy.

Aku selalu senang berada di antara teman-teman Fedy. Tapi, aku di sini untuk bekerja. Aku harus mengamati banyak hal di dekat Diandra.

Maka, saat Fedy bicara serius dengan Peter, aku menyelinap keluar dan kembali ke ballroom. Mataku mencari-cari keberadaan Diandra. Ah itu dia. Masih sibuk menerima ucapan selamat dari tamu-tamunya.

Aku duduk di kursi di samping kiri kursi Diandra. Sebuah kursi yang memang disediakan untukku. Sebuah kursi di samping kanan Diandra masih kosong. Entah untuk siapa kursi itu.

Saat melihatku, Diandra memintaku untuk mendekat. Ia mengenalkanku pada beberapa koleganya. Satu di antaranya Yanuar, perutnya gendut dan kumisnya tebal, seorang pejabat kepolisian. Diandra menyebutku sebagai seseorang yang menulis filmnya.

Diandra memakai gaun hitam. Setiap hari pagi siang malam di manapun kapan pun ia selalu memakai baju hitam. Sepertinya, ia ingin mengatakan pada dunia, bahwa ia berkabung terus atas kepergian Moreno. Dan pada saat bersamaan, ia menganggap Moreno masih hidup bersamanya. Sebuah kontradiksi yang aku tidak mengerti.

Orang-orang yang diberi kesempatan berbicara di panggung, berbicara senada berisi puja-puji betapa murah hati Diandra yang mereka sebut Nyonya Moreno. Mereka menyebut bangunan-bangunan fisik, sekian gedung sekolah, sekian tempat ibadah, yang dibangun berkat acara amal yang digelar Diandra. Orang kaya yang murah hati. Betapa sempurnanya Diandra.

Saatnya Diandra tampil ke panggung. Ruangan ballroom sunyi senyap. Diandra berbicara dan semua orang mendengarkan. Satu jam Diandra mengenang romantisme bersama Moreno. Sering kali Diandra berbicara dengan terbata-bata, kemudian ia berhenti sejenak seperti menahan gejolak di dalam dada. Ada kalanya ia berhasil, tapi beberapa kali ia tak kuasa menahan laju air mata. Kesedihan itu menular. Banyak tamu yang menunduk dengan raut muka haru. Beberapa perempuan larut dalam kesedihan, menghapus air matanya dengan tisu. Tapi satu pemandangan cukup unik, Yanuar polisi berbadan gemuk yang duduk di barisan kursi depan di sisi kiri panggung itu justru tertidur. Seseorang di sebelahnya menepuk bahunya. Yanuar terbangun dengan terkejut dan mengucek-ucek matanya.

Diandra terus menyanjung-nyanjung Moreno. Awalnya membuat haru, tapi lama-lama karena terlalu sering diucapkan jadinya berlebihan dan membuat muak. Cara Diandra membicarakan Moreno terlalu sempurna, seolah Moreno itu manusia tanpa cacat dan cela. Seolah Moreno itu begitu sempurnanya. Sesuatu yang menurutku tidak mungkin. Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, bukankah seharusnya memang begitu. Untuk apa membicarakan keburukan orang, baik orang itu sudah mati atau masih hidup.

Aku bangkit dan pindah ke kursi barisan belakang, agar bisa mengamati orang-orang dengan leluasa. Dan ternyata, semakin aku memperhatikan, banyak orang yang mengantuk saat mendengar pidato Diandra. Jangan-jangan pidatonya tiap tahun isinya sama, itu-itu saja, sehingga orang-orang yang sudah hapal jadi bosan. Mata orang-orang itu menjadi segar begitu Diandra turun dari panggung, dan acara dilanjutkan dengan pagelaran busana yang bertabur wajah-wajah muda, cantik dan segar dengan iringan musik yang menghentak.

Sebentar lagi giliran Fedy n Friends tampil di panggung, aku bergegas menuju kursiku.

“Dari mana saja kamu!?” bisik Diandra dengan suara tajam dengan tatapan mata tidak senang.

“Beraninya kamu pergi saat aku berbicara. Apa kamu tidak pernah belajar sopan santun!?” lanjut Diandra sebelum aku sempat menjelaskan.

“Maaf. Aku tidak bermaksud begitu,” aku tidak menyangka dia akan sensitif seperti itu. Jangan-jangan, dia sebenarnya menyadari banyak orang tidak antusias dengan pidato satu jamnya itu. Rasanya ingin tertawa. Tapi kata Bu Fauziah, tidak boleh menertawakan orang. Aku pun tak pandai bicara di atas panggung di depan banyak orang.

Diandra masih memandangku dengan tatapan sinis. Kualihkan pandanganku ke panggung. Tak kupedulikan ia yang mudah marah.

Personil Fedy n Friends satu persatu muncul. Pertama Fedy, kemudian Peter, Leo, Rino, Donny.

*bersambung