Arimbi Bimoseno

Book Reviews

ARIMBI BIMOSENO MENYULAM KISAH INSPIRATIF JOKOWI

Oleh: Gapey Sandy | 4 November 2014

Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, memang fenomenal. Muncul di era krisis kepercayaan, Jokowi justru hadir membawa semangat, kepedulian, dan asa. Asa yang penuh cita dan cinta yang hampir pudar itu pun lantas kembali bersinar. Tidak saja penampilan Jokowi yang penuh kesederhanaan dan bersahaja, atau tutur lisan yang santun tanpa menyebabkan hati terluka, Jokowi yang ndeso, Jokowi yang cungkring lagi ceking, Jokowi yang gemar menggulung lengan panjang kemeja putihnya, benar-benar mampu menyulap kondisi, habis muram terbitlah senang. Merujuk pada “habis gelap terbitlah terang” yang lebih dahulu lekat kepada sosok pahlawan nasional, Raden Ajeng Kartini.

Apa yang selama ini dikerjakan Jokowi, bukan semata teori. Bagi pria kelahiran Solo, 21 Juni 1961 ini, menjadi pejabat yang hanya teori melulu, bukan style khasnya. Malah, hadirnya Jokowi, mengunggah satu kata kerja dari bahasa local, yakni blusukan, menjadi punya pamor internasional. Bahkan, triliuner muda sekelas Mark Zuckerberg kepincut, penasaran ingin mengetahui lebih detil apa dan bagaimana blusukan ala Jokowi. Bermandi keringat, berdesak-desakan, berpanas ria, bermacet-macetan, bertemu langsung, dan menyimak keluhan serta harapan wong cilik, adalah content ‘mata kuliah’ blusukan yang akhirnya bakal dibawa juragan Facebook yang baru berusia 30 tahun ini, ketika kembali pulang ke negara asalnya.

Tak ayal, pesona dan karisma Jokowi memang sedang kinclong kemilau. Semangatnya untuk melakukan aksi nyata sembari meneriakkan semboyan “kerja, kerja, dan kerja”, telah berhasil membuahkan keteladanan. Bahkan, langkah politiknya yang selalu berusaha merangkul basis-basis massa dan rakyat secara keseluruhan, akhirnya juga menuai kegemilangan. Tepat, 20 Oktober 2014, Joko Widodo bersanding dengan Jusuf Kalla, menjalani prosesi pelantikan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014 – 2019.

Begitulah gambaran sosok Jokowi, suami dari Iriana, yang kini menjadi pemimpin dari 245 juta jiwa penduduk Indonesia, yang 11,25 persen diantaranya, masih termasuk belum sejahtera alias masyarakat miskin.

Buku ini berusaha mengulik Jokowi secara lengkap, melalui tujuh judul besar yang ditawarkan oleh penyusun buku ini. Mulai dari: Magnet Jokowi – Ahok; Cuti Paling Heroik; Lolos Dari Arena Tersengit Pemilu Indonesia; Ahok Mendadak Gubernur; Hidup Adalah Perjalanan; Gemini Yang Tidak Romantis; dan, Aku Rapopo. Secara menyeluruh, buku yang banyak menyisipkan foto-foto penunjang naskah ini memang bermaksud menyampaikan benang merah tentang Jokowi yang sangat inspiratif.

Melalui bab Prakata, penyusun buku ini dengan cerdas menuangkan sejatinya Jokowi melalui syair-syair yang puitis, seperti terbaca pada ilustrasi foto Arimbi Bimoseno, sang penyusun buku yang belasan tahun memiliki karier moncer sebagai jurnalis, dengan jabatan mentereng yang pernah disandangnya yakni Managing Editor Tabloid Wanita Indonesia. Selain melalui puisi yang penuh makna, penyusun buku ini juga mengungkapkan sanjung puji terhadap Jokowi. Menurutnya, Jokowi telah membukakan mata, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Wong ndeso, tidak ngganteng, tidak gagah, tidak kaya, bukan darah biru, jauh dari ciri-ciri yang biasa dilekatkan pada sosok seorang idola.

Uniknya, apa yang melekat pada imajinasi penyusun buku ini tentang Jokowi, pernah pula disampaikan oleh Jokowi sendiri. Pada bab 5 yang menyuguhkan tajuk “Hidup Adalah Perjalanan”, Jokowi dikutip pernyataannya yang mengatakan, “Dengan tubuh cungkring, rambut gondrong dan wajah pas-pasan, saya menempatkan diri sebagai remaja galau yang ingin menyuarakan kegelisahan”. Secara detil dan cermat sekali, penyusun buku ini kemudian menampilkan foto Jokowi ketika masih muda—yang tengah menyandarkan dagu pada tangannya—, sekaligus mengungkap bagaimana Jokowi, anak dari pasangan almarhum Wijiatno Notomihardjo dan Sujiatmi ini, mengekspresikan diri melalui musik beraliran Rock yang hingar-bingar.

Musik Rock, tulis Arimbi Bimoseno di halaman 139, ternyata berefek dahsyat pada si sulung dari tiga adik perempuan, Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Kepekaan Jokowi menjadi tajam. Kemiskinan dalam kehidupan masyarakat membuatnya berpikir kritis. Ketidakadilan yang jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari mengiris perasaan Jokowi. Sering ia berpikir, “Seharusnya tidak boleh seperti itu”.

Salah satu kekuatan buku yang tersusun dari sebaran referensi demi referensi di media massa ini boleh dibilang terletak pada bab 5 yang memaparkan kisah kesederhanaan hidup kedua orangtua Jokowi. Orangtua yang tidak ingin melihat keempat anaknya nestapa dalam kepapaan, sehingga harus banting tulang menjadi pedagang kayu yang ulet dan bersaing dengan para tetangga yang kebanyakan berprofesi sama. Menggambarkan masa-masa hidup susah itu, dengan pandainya penyusun buku ini mengutip pernyataan Jokowi, “Saya bisa melewati kehidupan yang cukup baik jika takarannya adalah bisa makan tiga kali sehari dan bersekolah. Orangtua saya adalah sosok luar biasa yang tahu bagaimana mengelola keluarga bahagia walau berada dalam kondisi serba terbatas,” tutur alumnus SDN 111 Tirtoyoso, SMPN 1 Surakarta, dan SMAN 6 Surakarta ini.

Lebih lanjut, Jokowi yang tercatat sebagai “tukang insinyur” jebolan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menambahkan, “Yang bisa saya simpulkan dari segala yang saya lihat, orang-orang kecil memiliki ketabahan dan hati kuat yang luar biasa. Sikap nrimo berpadu dengan semangat pantang menyerah untuk tidak kalah menghadapi hidup. Kesabaran menanti perbaikan nasib datang, ibarat doa yang diembuskan pada Yang Kuasa dan akan berbuah jawaban baik pada waktunya”.

Usai mengungkap ketabahan dan keikhlasan hati Jokowi dalam menjalani masa hidupnya yang jauh dari bermandikan harta kekayaan, penyusun buku ini kembali memperlihatkan kepiawaiannya dalam menggulirkan kalimat demi kalimat inspiratif yang menyentuh kalbu. Arimbi Bimoseno, Kompasianer kelahiran Tulungagung, 4 Desember 1975 ini misalnya, berhasil untuk menggaris-bawahi sebuah kesimpulan, bahwa pada satu momentum tertentu, Jokowi kemudian tak bisa pindah ke lain hati, tiada lain yaitu jatuh cinta pada kayu.

Termuat pada halaman 137, penyusun buku ini menulis, di depan rumah Jokowi juga bertumpuk-tumpuk kayu gergajian berukuran kecil dan sedang, serta ikatan-ikatan bambu. Jokowi tidak melihat kayu dan batu itu simbol kesengsaraan. Ia melihatnya sebagai semangat hidup yang meluap-luap dari orangtuanya. “Ibu ikut turun tangan membantu berjualan bambu dan dari wajahnya saya temukan semangat besar. Bapak cinta betul pada bisnis kecil yang ditekuninya. Kelihatan sekali ia menyerahkan seluruh hatinya pada pekerjaannya,” cerita Jokowi yang pada bagian lain buku ini menyebut dirinya sebagai pria yang tidak romantis.

Kisah Jokowi yang berbintang Gemini, dan ternyata bertolak-belakang dengan kebanyakan empunya rasi bintang ini, juga mampu mencuri perhatian pembaca buku ini untuk semakin tak mau ketinggalan keseruannya. Dapat ditebak, pada bab 6 dengan judul “Gemini Yang Tidak Romantis” ini, tersaji kisah kasih awal mula panah asmara Jokowi menancap di hati Iriana, biasa disapa Ana.

Setelah membaca bab yang sarat romantika anak muda bercinta, Joko dan Ana ini, kiranya patut pula rasa terima kasih disampaikan kepada Iit Sriyantini, adik kandung Jokowi. Kenapa? Karena rupanya, Ana adalah teman akrab Iit, yang kerap diajak bermain dan belajar bersama di rumah. Bukan bermaksud menjadi mak comblang untuk sang kakak, Jokowi, tapi rupanya memang Jokowi sendiri yang semakin hari mulai kepincut dan naksir Ana. Prikitiuw! Tapi ya begitulah adanya. “Bersyukur Mas Joko mendapat Ana. Selain dia teman baik, saya mengenal Ana sudah seperti saudara,” aku Iit seperti termuat di halaman 157.

Sebaliknya, Ana jatuh hati pada Mas Joko lantaran memang ia adalah sosok jejaka pintar nan cerdas. “Meskipun rambutnya gondrong, Mas Joko sejak kecil sering menjadi juara kelas, bahkan diterima kuliah di UGM,” kenang Iriana yang memang ayu dengan pembawaan diri lembut bak Putri Solo.

Membaca buku ini, sama saja dengan mengakrabkan diri kita dengan sosok Jokowi yang from zero to hero, beserta cerita dan fakta seputar lompatan-lompatan linimasanya. Mulai dari kiprahnya berbisnis kayu, menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga terpilih sebagai Presiden RI ke-7. Presiden yang menggelorakan revolusi yang sama fenomenal seperti dirinya sendiri, yaitu revolusi mental. “Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin,” tandas Jokowi.

Alhasil, penyusun buku ini telah berhasil membuat sebuah karya, yang kalau dibaca secara utuh, akan mampu membuat pembacanya mengenal lebih dalam sosok seorang Jokowi. Buku ini tidak saja mengulas profil Jokowi secara murni, tapi banyak human interest dan kisah inspiratif yang terkandung didalamnya. Salut untuk kerja Arimbi Bimoseno yang cermat dan smart dalam menyusun buku ini.

Sedikit kelemahan buku ini, terletak pada desain dalam yang terkadang satu atau dua halaman secara full di-block dengan menggunakan satu warna, sementara huruf-hurufnya diwarnai dengan putih. Mungkin, secara design, tampilannya menjadi trendy dan artistic. Tapi, percayalah, desain halaman seperti ini (terkadang) justru ‘menyiksa’ pembaca karena harus memicingkan mata untuk dapat membaca rangkaian kalimat demi kalimat secara lebih jelas. Apalagi, tipe font atau hurufnya juga tidak dibuat bold atau tebal.

Meski demikian, buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden ini tetap patut diacungi jempol, dan layak untuk dibaca. Karena memang, buku ini dapat menjadi modal inspirasi generasi muda Indonesia dalam menapaki prestasi dan berjuang meraih mimpi. Beruntung, saya telah memiliki buku ini. Lengkap dengan tulisan tangan asli, dan coretan kalimat pesan singkat namun mendalam dari Arimbi Bimoseno, sang penyusun buku, yakni “Semoga Bermanfaat”.

* * *

Judul Buku : Jokowi Rapopo Jadi Presiden.

Penyusun : Arimbi Bimoseno.

Penyunting : Ambar Pratiwi.

Penerbit : Kata Media, grup Puspa Swara.

Halaman : viii + 232 halaman, 25 cm.

Tahun : Cetakan I – Jakarta, 2014.

ISBN : 978 979 1478 63 2.

-

PESAWAT HABIBIE IS BACK

Oleh: Khoirul Umam, Alumni Univ. Muhammadiyah Malang

27 Januari 2015

Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie pernah sukses memimpin putra-putri terbaik bangsa Indonesia dalam menciptakan pesawat terbang. Pesawat terbang yang diluncurkan perdana pada tanggal 10 Agustus 1995 tersebut diberi nama Gatotkaca N-250. Pesawat murni hasil pemikiran dan buatan anak bangsa itu merupakan pesawat paling canggih dikelasnya karena dikendalikan secara elektronik (fly by wire). Indonesia pun bangga bisa menjadi negara pertama di Asean yang menciptakan pesawat terbang seperti Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat.

Namun sayang, pesawat Gatotkaca N-250 yang pernah menjadi primadona itu kini tinggal kenangan. Krisis ekonomi pada tahun 1998 memaksa presiden Soeharto mundur sebagai presiden dan pesawat N-250 dihentikan produksinya atas desakan IMF (International Monetary Fund). Akibatnya, PT. Dirgantara Indonesia memensiunkan dini ribuan tenaga kerjanya. Habibie tidak marah, namun ia kecewa karena mimpi besarnya yang mulai terbang tinggi itu harus turun dan terhenti.

Bukan Habibie namanya jika ia larut dalam kesedihan yang mendalam. Jiwa besar Habibie membawanya untuk melihat sudut positif atas peristiwa yang terjadi. Menurutnya, perjuangan yang telah dilakukan selama ini tidak ada yang sia-sia. Setidaknya, N-250 ciptaannya menjadi bukti bahwa Indonesia mengerti cara membuat pesawat terbang komersil mulai dari A-Z.

Habibie dan timnya akan kembali berkarya dan bangkit melaksanakan perjuangan yang tertunda untuk sementara. Saat menjabat sebagai presiden pun, Habibie masih belum mampu berbuat banyak untuk N-250. “Untuk membuat lompatan besar, seseorang harus mundur beberapa langkah,” cetus Habibie sambil membenahi keadaan.

Habibie memang tidak mudah lelah, apalagi untuk dikalahkan. Di usianya yang senja kini, Presiden RI ketiga tersebut masih kuat memegang mimpi besarnya untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen pesawat terbang. Habibie meyakini, Indonesia belum terlambat untuk memajukan industri pesawat terbang. Mengingat pesawat terbang merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi Indonesia sebagai Negara kepulauan dan naiknya permintaan pesawat terbang dari negara lain.

Tahun 2012, Habibie is back. Menjelang usia ke-80, semangat Habibie masih seperti saat ia usia 17 tahun. Menteri Negara Riset dan Teknologi era Presiden Soeharto tersebut ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia masih mampu untuk menciptakan pesawat terbang sendiri. Di bawah bendera PT. Regio Aviasi Industri, Habibie akan membimbing anak-anak muda Indonesia merancang pesawat R-80. Ini merupakan proyek besar untuk mengembalikan kejayaan N-250, namun dengan desain dan teknologi yang baru.

Rencana Habibie merintis R-80 cukup tiga tahun saja, setelah itu giliran Ilham Akbar, putra pertama Habibie, untuk melanjutkan mimpi besar sang ayah. Jika tidak ada halangan, pesawat R-80 akan mengudara melintasi Nusantara dan dunia pada tahun 2017 atau 2018. Ilham Akbar pun berkeyakinan, jika Indonesia telah mampu dan berhasil membangun industri pesawat, Indonesia juga akan mampu mendirikan industri mobil, motor dan kereta api sendiri.

Kini, rakyat Indonesia tinggal menunggu lahirnya kembali karya besar Habibie. Calon pembeli dan pengguna pesawat R-80 pun sudah menanti. Salah satunya adalah NAM Air, anak perusahaan maskapai besar Sriwijaya Air. Chandra Lie, Presiden Direktur Sriwijaya Air memberikan komitmen dan kepercayaannya pada Habibie. Kita berharap, R-80 akan sukses mengudara. Kita tentu tak ingin pesawat yang lalu lalang di langit Indonesia adalah produk asing semua.

Perjalanan dan perjuangan Habibie dalam mengembalikan industri pesawat terbang Indonesia tersebut, tertulis dalam buku Pesawat Habibi: Sayap-sayap Mimpi Indonesia. Sang penulis, Arimbi Bimoseno, tidak hanya mengisahkan secara terkini tentang pesawat ciptaan Habibie, namun juga memperlihatkan sisi kenegarawanan sejati Habibie dan perjalanan spiritualnya. Di setiap halamannya, buku yang diterbitkan oleh Kata Media ini menghadirkan kisah inspiratif Habibie melalui tulisan dan kumpulan foto. Sangat layak untuk dibaca oleh kaum muda, khususnya pelajar dan mahasiswa agar dapat memetik semangat juang dan cinta Tanah Air.

Kisah cinta sejati Habibie yang romantis bersama mendiang istrinya Ainun juga terekam dengan baik. Habibie mengungkapkan bahwa sinergi positif yang ia bangun dengan Ainun selama 48 tahun 10 hari, banyak mendukung produktivitas dan meningkatkan kecerdasannya.

Kini Habibie tinggal di Patra Kuningan Jakarta dan menyediakan sebagian ruangan di rumahnya untuk perpustakaan. Selain itu, ia juga memiliki rumah dengan halaman 1.5 hektar di dekat Hamburg, Jerman. Di tengah perjuangan besarnya saat ini, Habibie terus aktif bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya di Indonesia untuk mengalirkan inspirasi kepada anak cucu intelektualnya. Habibie juga berharap ada penerusnya yang bisa meraih prestasi lebih hebat dibanding dirinya.

Bangsa Indonesia patut bersyukur dan bangga memiliki putra jenius bernama Habibie. Ia adalah maestro teknologi dunia dibidang pesawat terbang. Berkat kerja keras dan otak cerdasnya, Ia berhasil menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori penting dibidang thermodinamika, konstruksi dan aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya yang digunakan dalam dunia pesawat terbang dikenal sebagai ‘Habibie Factor’, ‘Habibie Theorem’ dan ‘Habibie Method’. Tidak heran jika nama Habibie dikagumi dan disegani oleh dunia internasional. Ya, Habibie adalah orang Indonesia paling berpengaruh di dunia.

***

Judul Buku : Pesawat Habibie, Sayap-sayap Mimpi Indonesia

Penulis        : Arimbi Bimoseno

Penerbit      : Kata Media

Edisi            : 2014

Tebal           : iv + 380 halaman

-

RESENSI NOVEL THE SMILING DEATH: SENYUMAN BERBISA

Oleh: Choirul Huda | 18 November 2013

Kelam.

Itulah kesimpulan yang saya dapat dari novel “The Smiling Death: Senyuman Berbisa” karya duet Kompasianer, Erri Subakti & Arimbi Bimoseno. Sebenarnya, cukup satu malam melahap habis novel setebal 240 halaman ini. Bahkan, tidak sampai beberapa jam untuk mengetahui alur kisah dari awal hingga akhir layaknya novel bergenre thriller lainnya. Namun, hingga sepekan ini, saya hanya mampu membacanya. Belum bisa menyelami isi dari apa yang terkandung di novel terbitan Elex Media Komputindo ini.

Dalam.

Kalimat yang tepat menggambarkan novel yang kemudian di dunia maya populer menjadi novel SDSB. Namun, saya sendiri kurang tertarik dengan akronim tersebut karena konotasinya merujuk penggalangan dana pada era orde baru. Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Saya cenderung menyukai novel ini sebagai “The Smiling Death” saja, atau “Senyuman Berbisa”.

Pertama kali melihat sampul depan novel ini pada Senin (11/11) yang menonjolkan siluet wanita dengan bibir bergincu, membuat saya mengira novel ini bertema “abu-abu”. Apalagi, ketika di sampul belakang “The Smiling Death” terdapat label yang cukup mencolok: Novel Dewasa.

Imajinasi saya melayang pada roman klasik nan populer dari tiongkok (Cina) yang sangat erotis, Jin Ping Mei. Beruntung, “The Smiling Death” tidak sejauh itu. Meski, pada halaman pertama seperti mengajak pembaca untuk mengintip “malam pertama” yang dilakukan dua tokoh utama, Ananta Schiller dan Rachel Wongso Wijoyo.

Ya, tentu, Pepih Nugraha yang menjabat sebagai Managing Editor Kompas.com  tidak keliru saat memberi kata pengantar untuk “The Smiling Death”: “Novel ini sangat apik dalam setting waktu dan detail peristiwa, Anda seolah-olah berada dan dipaksa masuk ke dalam situasi dan suasana yang disajikan penulis novel ini.”

Apa yang diutarakan pendiri Kompasiana itu beralasan. Menyelami “The Smiling Death” justru membuat pembaca mengernyitkan dahi. Setelah selesai baca bukannya langsung berkata, “oh, begitu toh ending ceritanya,” layaknya novel-novel lainnya. Sebaliknya, pembaca kian “terjebak” dalam labirin waktu yang tak kunjung selesai. Kenapa si A harus begini. Si B, begitu. Atau, si C…

Itu dapat dilihat pada akhir kisah yang sebetulnya belum berakhir. Ketika seorang pengemis yang merupakan ayah kandung Rachel sekaligus “pemerkosa” ibunya, Wulandari, tersenyum usai membaca headline surat kabar nasional tentang terbunuhnya calon gubernur. Saya membayangkan adegan tersebut mirip clue yang terdapat pada film Batman Begins, yaitu kartu Joker yang kemudian menjadi tokoh utama dalam The Dark Night.

*      *      *

Bagi saya pribadi, “The Smiling Death” bukan novel terbaik yang pernah saya baca. Meski, kisahnya kelam dan alur yang sangat dalam hingga sulit diselami apalagi sekadar ditebak. Hanya, novel ini masih kentara “keterikatannya” antara tokoh satu dengan lainnya. Seperti korelasi Rachel dengan Ananta, Wulandari, Julia Wongso Wijoyo -adik Rachel- hingga Carla Indira. Sosok yang menjadi sentral di balik layar yang sebelumnya dikendalikan Rachel “berbalik” mengendalikannya.

Mungkin setara dengan “Namaku Hiroko”, “Permainan Bulan Desember”, dan “Perempuan Kembang Jepun”. Meski, secara penokohan masih sedikit di bawah “Yang Liu”, satu-satunya novel yang membuat saya bergidik sejak pertama membaca sampai sekarang.

Namun, “The Smiling Death” memiliki kelebihan dibanding novel lainnya, minimal berdasarkan referensi pribadi saya. Tidak hanya terjebak kisah klise, seperti cinta segiempat (Ananta-Carla-Rachel-Julia), pencarian jati diri seorang anak pada orangtuanya, pembunuhan yang dilandaskan cemburu, atau pembalasan dendam saja.

Tapi, dibalut dengan misteri dan drama yang disertai pemaparan adagium lawas nan filosofis, yang bagi saya ruwet tapi membuat penasaran. Bagaimana mungkin, di tengah persiapan pernikahan kedua Ananta -sebelumnya dengan Carla- dan Rachel, keduanya sibuk berdebat. Pasti, bukan cerita mengenai malam pertama yang “berujung neraka” atau tentang harta gana-gini. Melainkan, tentang percakapan kedua insan yang horizontal tentang Tuhan.

“Semua yang hidup pasti akan mati. Jadi, di awal ketika tuhan menciptakan manusia di dalam rahim, sekaligus Tuhan sudah menentukan ending-nya, jadwal kematiannya. Demikian juga dengan kematian Carla. jadi, tidak ada gunanya kita bergabung terus-menerus menyesalinya,” ujar Rachel menjawab pertanyaan Ananta sekaligus menutupi ulahnya yang dengan sengaja membunuh Carla, sahabat dekatnya.

“Cara kerja Tuhan nggak gitu. Tidak linear gitu. Tuhan menciptakan berjuta ending dengan miliaran percabangan hidup. Tuhan membuat ending manusia mati di usia 25, tapi orang yang sama juga disiapkan Tuhan, mati di usia 50. Mati, di usia 25 atau 50 itulah pilihan manusia,” Ananta mencoba berargumen, meski hasilnya sangat identik: Sepakat untuk tidak sepakat.

***

Judul: The Smiling Death: Senyuman Berbisa

Penulis: Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: November 2013

Jumlah Halaman: 240

ISBN: 978-602-02-2404-6

-

ARIMBI BIMOSENO: BUTUH KEBERANIAN MEMBACA BUKUMU

Self Development Book

Oleh: Ay Satriya Tinarbuka | 19 Juli 2012

Membaca nama Arimbi Bimoseno membuatku berpikir bahwa pemberi nama ini tentulah mengetahui tokoh Arimbi sebagai istri Bimasena dalam khazanah pewayangan. Mungkin orang bilang ‘apalah arti sebuah nama’, namun nama ini cukup membuatku merasa punya teman yang memiliki minat sama.

Aku adalah penggemar tokoh Bimasena dalam pewayangan karena dialah satu-satunya keluarga Pandawa yang memahami ilmu tentang hidup dan kehidupan. Jadi jangan heran kalo background foto profilku ada wayang Bimasena …

Ketika mulai membaca buku Mbak Arimbi, aku seperti melakukan perjalanan yang sama seperti perjalanan Bimasena dalam kisah Dewaruci. Sebuah perjalanan memasuki bilik bathin yang kecil namun justru dalam kecilnya ruangan bathin memuat alam semesta, seperti sebuah paradoks.

Perjalanan Bimasena memungkinkan untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, sehingga kita bisa memahaminya secara lebih utuh, terbebas dari batasan ruang-waktu sekalipun.

Mungkin kita melihat diri kita sebagai manusia baik karena kita memandang dari satu sisi. Ketika kita melakukan perjalanan bathin untuk melihat diri kita dari sudut pandang lain, kita bisa temukan keburukan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dibutuhkan keberanian untuk mengakui keburukan-keburukan tersebut. Dan ketika keberanian itu diperoleh, kita bisa memahami bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Aku juga perlu membangun keberanian untuk mengakui bahwa caraku mengungkapkan perjalanan bathin masih sangat belepotan, kalah jauh dengan bahasa Mbak Arimbi yang rileks. Mungkin pengalaman bathinku juga masih kalah jauh … hehehehe ….

Baca lagi bukunya ah …… mulai dari judulnya “Karma Cepat Datangnya”..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers

%d bloggers like this: