Arimbi Bimoseno

Book Reviews

.

NOVEL THE SMILING DEATH

Novel The Smiling Death

Foto dok. Erri Subakti

 

-

RESENSI NOVEL THE SMILING DEATH: SENYUMAN BERBISA

Oleh: Choirul Huda | 18 November 2013

Kelam.

Itulah kesimpulan yang saya dapat dari novel “The Smiling Death: Senyuman Berbisa” karya duet Kompasianer, Erri Subakti & Arimbi Bimoseno. Sebenarnya, cukup satu malam melahap habis novel setebal 240 halaman ini. Bahkan, tidak sampai beberapa jam untuk mengetahui alur kisah dari awal hingga akhir layaknya novel bergenre thriller lainnya. Namun, hingga sepekan ini, saya hanya mampu membacanya. Belum bisa menyelami isi dari apa yang terkandung di novel terbitan Elex Media Komputindo ini.

Dalam.

Kalimat yang tepat menggambarkan novel yang kemudian di dunia maya populer menjadi novel SDSB. Namun, saya sendiri kurang tertarik dengan akronim tersebut karena konotasinya merujuk penggalangan dana pada era orde baru. Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Saya cenderung menyukai novel ini sebagai “The Smiling Death” saja, atau “Senyuman Berbisa”.

Pertama kali melihat sampul depan novel ini pada Senin (11/11) yang menonjolkan siluet wanita dengan bibir bergincu, membuat saya mengira novel ini bertema “abu-abu”. Apalagi, ketika di sampul belakang “The Smiling Death” terdapat label yang cukup mencolok: Novel Dewasa.

Imajinasi saya melayang pada roman klasik nan populer dari tiongkok (Cina) yang sangat erotis, Jin Ping Mei. Beruntung, “The Smiling Death” tidak sejauh itu. Meski, pada halaman pertama seperti mengajak pembaca untuk mengintip “malam pertama” yang dilakukan dua tokoh utama, Ananta Schiller dan Rachel Wongso Wijoyo.

Ya, tentu, Pepih Nugraha yang menjabat sebagai Managing Editor Kompas.com  tidak keliru saat memberi kata pengantar untuk “The Smiling Death”: “Novel ini sangat apik dalam setting waktu dan detail peristiwa, Anda seolah-olah berada dan dipaksa masuk ke dalam situasi dan suasana yang disajikan penulis novel ini.”

Apa yang diutarakan pendiri Kompasiana itu beralasan. Menyelami “The Smiling Death” justru membuat pembaca mengernyitkan dahi. Setelah selesai baca bukannya langsung berkata, “oh, begitu toh ending ceritanya,” layaknya novel-novel lainnya. Sebaliknya, pembaca kian “terjebak” dalam labirin waktu yang tak kunjung selesai. Kenapa si A harus begini. Si B, begitu. Atau, si C…

Itu dapat dilihat pada akhir kisah yang sebetulnya belum berakhir. Ketika seorang pengemis yang merupakan ayah kandung Rachel sekaligus “pemerkosa” ibunya, Wulandari, tersenyum usai membaca headline surat kabar nasional tentang terbunuhnya calon gubernur. Saya membayangkan adegan tersebut mirip clue yang terdapat pada film Batman Begins, yaitu kartu Joker yang kemudian menjadi tokoh utama dalam The Dark Night.

*      *      *

Bagi saya pribadi, “The Smiling Death” bukan novel terbaik yang pernah saya baca. Meski, kisahnya kelam dan alur yang sangat dalam hingga sulit diselami apalagi sekadar ditebak. Hanya, novel ini masih kentara “keterikatannya” antara tokoh satu dengan lainnya. Seperti korelasi Rachel dengan Ananta, Wulandari, Julia Wongso Wijoyo -adik Rachel- hingga Carla Indira. Sosok yang menjadi sentral di balik layar yang sebelumnya dikendalikan Rachel “berbalik” mengendalikannya.

Mungkin setara dengan “Namaku Hiroko”, “Permainan Bulan Desember”, dan “Perempuan Kembang Jepun”. Meski, secara penokohan masih sedikit di bawah “Yang Liu”, satu-satunya novel yang membuat saya bergidik sejak pertama membaca sampai sekarang.

Namun, “The Smiling Death” memiliki kelebihan dibanding novel lainnya, minimal berdasarkan referensi pribadi saya. Tidak hanya terjebak kisah klise, seperti cinta segiempat (Ananta-Carla-Rachel-Julia), pencarian jati diri seorang anak pada orangtuanya, pembunuhan yang dilandaskan cemburu, atau pembalasan dendam saja.

Tapi, dibalut dengan misteri dan drama yang disertai pemaparan adagium lawas nan filosofis, yang bagi saya ruwet tapi membuat penasaran. Bagaimana mungkin, di tengah persiapan pernikahan kedua Ananta -sebelumnya dengan Carla- dan Rachel, keduanya sibuk berdebat. Pasti, bukan cerita mengenai malam pertama yang “berujung neraka” atau tentang harta gana-gini. Melainkan, tentang percakapan kedua insan yang horizontal tentang Tuhan.

“Semua yang hidup pasti akan mati. Jadi, di awal ketika tuhan menciptakan manusia di dalam rahim, sekaligus Tuhan sudah menentukan ending-nya, jadwal kematiannya. Demikian juga dengan kematian Carla. jadi, tidak ada gunanya kita bergabung terus-menerus menyesalinya,” ujar Rachel menjawab pertanyaan Ananta sekaligus menutupi ulahnya yang dengan sengaja membunuh Carla, sahabat dekatnya.

“Cara kerja Tuhan nggak gitu. Tidak linear gitu. Tuhan menciptakan berjuta ending dengan miliaran percabangan hidup. Tuhan membuat ending manusia mati di usia 25, tapi orang yang sama juga disiapkan Tuhan, mati di usia 50. Mati, di usia 25 atau 50 itulah pilihan manusia,” Ananta mencoba berargumen, meski hasilnya sangat identik: Sepakat untuk tidak sepakat.

*      *      *

Judul: The Smiling Death: Senyuman Berbisa
Penulis: Erri Subakti & Arimbi Bimoseno
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: November 2013
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 978-602-02-2404-6

-

PENGALAMAN MEMBACA THE SMILING DEATH

Oleh: Insan Purnama | 12 November 2013

Saya meletakkan buku itu di antara deretan buku pada perpustakaan saya. Begitu caya saya menghormati buku, setelah cara pertama membacanya, dan cara kedua mereviewnya. Belumlah lama saya berdepan-depan dengan buku “Theory of the Novel”, sebuah buku tebal 900-an halaman. Yang menuntun saya mulai meletakkan novel sebagai sebuah genre kesusastraan, bukan sebagai “biang” bagi genre di bawahnya. Ah, kalimatnya saya rumit banget. Maksudnya, bukan sebagai sebuah hipernim bagi genre-genre yang ditempatkan sebagai hiponimnya.Sudahlah, abaikan saja buku itu tokh saya tidak ingin membicarakan buku itu. Kali ini saya hanya sedikit saja berbicara tentang novel “The Smiling Death” alias “Senyuman berbisa”. Tapi, jujur saja saya baru membaca sampai 42 halaman. Namun, itu sudah cukup membuat saya “orgasme” dua kali. Bayangkan dua kali berturut-turut.

Baiklah, saya akan ceritakan “pengalaman” saya membaca novel itu. Sekali lagi, pengalaman saya saja, saya tidak akan melakukan aksi intelektual terhadap novel ini. Walaaah, bahasanya sok keren sih saya nih.

Waktu saya membaca halaman-halaman pertama, tiba-tiba saja saya ingat novel klasik kita “Belenggu”. Betul,kontras sekali dibandingkan dengan novel ini. Belenggu dibuka dengan pengambaran situasi rumah tangga Tono-Tini yang tidak romantis, tetapi novel ini dibuka dengan “persiapan malam pertama”, sangat romantis pada awalnya hingga akhirnya saya dikejutkan oleh “peristiwa” selanjutnya, yang menyebabkan malam pertama itu tidak lagi romantis, melainkan sedikit histeris.

Kedua, novel ini pun tiba-tiba saja mengingatkan saya pada novelet “Raumanen”. Hampir sama dalam sajian penceritaan. Novelet Raumanen setiap babnya diawali oleh sebuah teks/wacana yang berisi “pengakuan” para tokohnya baik Monang maupun Manen. Nada pada teks itu cenderung murung. Nah, novel Erri dan Arimbi ini pun mirip sepert itu. Bedaanya adalah mereka berdua menyajikan puisi-puisi yang mengawali setiap babnya. Saya membaca puisi itu, rasanya nadanya pun agak sedikit murung. Ah,mungkin saya salah, bisa jadi, kemarin 30 menit kehujanan naik motor di Cianjur cukup membuat saya menggigil.

Ketiga, fiksionalitas. Hmm, saya sering memegang teguh fiksionalitas. Tapi, saya ditawari informasi yang tidak fiksionalitas, seperti HIPMI dan Pertamina. Itu real! Nah, ini pula mengingatkan saya ke pada novel “Ladang Perminus” yang mengkritik praktik korupsi di Pertamina zaman baheula. Ya, ya, saya maklum, dalam Ladang Perminus ada kritikan tajam jadi perlu sedikit diubah agar kefiksiannya benar-benar diterima.

Ah, itu saja pengalaman saya. Soal judul,jujur saya bingung nulisnya. Beginikah, “the smiling death: Senyuman Berbisa”, ataukah “the smiling death/senyuman berbisa”? Hmm, ini pun mengingatkan saya kepada novel “Silence” karya Shusaku Endo yang diterjemahkan menjadi “Hening”, di cover dua kata itu muncul. Bagaimana menuliskannya?

-

THE SMILING DEATH: PERJALANAN SEBUAH LUKA

Oleh: Erna Suminar | 1 Desember 2013

Pertama kali ketika memegang novel The Smiling Death yang ditulis oleh Erri Subakti dan Arimbi Bimoseno ini, mata saya langsung tertumbu   pada gambar  bibir sensual seorang perempuan dengan warna lipstick merah menyala. Ini sungguh cover yang menantang. Cover ini mengingatkan saya pada para perempuan-perempuan yang menyuguhkan dandanan menor, yang terkesan pemuja tubuh dan penyembah ego,  dengan kepribadian labil.  Gambar ini  cukup mewakili tokoh antagonisnya yang bernama Rachel. Sejatinya memang memiliki karakter keras, licik, sekaligus  rapuh.

Pada halaman – halaman awal membaca novel ini, hawa konflik sudah mulai terasa. Rachel yang memiliki kepribadian yang pecah ini harus menderita karena cintanya kepada Ananta merubahnya menjadi  seorang pembunuh. Ia membunuh Carla istri Ananta. Setelah mendapatkan Ananta,  sayangnya, bukan kebahagiaan yang didapatkan oleh Rachel, tetapi penderitaan demi penderitaan menelikung hidupnya.

Rachel sesungguhnya adalah perempuan yang malang. Terpecahnya kepribadiannya, tak lepas dari sejarah hidupnya yang amat kelam. Ia dibuang oleh Wulan, ibunya sendiri karena bayi perempuan ini lahir dari ayah yang tidak diketahui. Ia kemudian diadopsi oleh sepasang suami istri yang tidak memiliki anak, Trenggono dan Fahira. Kendati  keduanya membesarkan Rachel dengan penuh kasih sayang, namun Rachel merasakan semacam luka di hatinya yang tak pernah ia ketahui asal muasalnya. Ia selalu dilanda gelisah. Drama-drama kejiwaan Rachel terurai dengan detail di novel ini, hingga akhirnya novel ini mencapai klimaksnya dengan pertemuan Rachel dengan ibu kandungnya, juga kematiannya.

Sekalipun sarat dengan konflik, novel ini dipadu dengan puisi-puisi yang syahdu. Karenanya, membaca novel ini, terkadang ada perasaan dihentak-hentak, tetapi kadang terasa dibelai lembut.  Ini cukup mengaduk-aduk  emosi  pembacanya. Berikut saya kutipkan epilog dalam novel ini yang lembut dan  kontemplatif :

Pada ketinggian langit, kulihat betapa rendahnya aku

pada kedalaman lautan, kulihat betapa dangkalnya aku

pada luasnya alam semesta, kulihat betapa sempitnya aku

pada panjangnya jalan, kulihat betapa pendeknya aku

pada burung terbang, kutahu burung mahir tebang

pada ikan berenang, kutahu ikan mahir berenang

pada diriku sejauh apa rasa tahuku

apakah aku mengenal diriku

Semoga  buku ini mendapat tempat di hati para penikmat novel. Kehadiran  The Smiling Death  ini juga  akan   memberi warna dan mengayakan sejarah kesusastraan di Indonesia. Mas Erri dan Mbak Arimbi, selamat dan sukses. Semoga lahir karya-karya emas berikutnya.  Aku menanti….

Judul novel : The Smiling Death, Senyuman Berbisa

Penerbit      : Elex Media Komputindo

Genre          : Novel Dewasa

ISBN           : 978-602-02-2404-6

-

THE SMILING DEATH: MAAFKAN DAN LUPAKAN

Oleh: Katedra Rajawen | 15 November 2013

Sebuah buku yang sangat menggairahkan dan merangsang minat untuk segera membaca begitu melihat covernya. Dengan sampul bergambar bibir merah wanita yang merekah dan judul yang menantang membuat bibir ini tak mau diam dan jakun turun naik. Bayangkan, betapa membuat penasaran apa gerangan kisah yang ada di dalamnya.

Pada bab pertama saja kita sudah disuguhi adegan malam pertama Ananta dan Rachel yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini. Selain Carla yang sudah dikisahkan menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit yang diderita dan dipercepat atas ulah Rachel yang dimakan cemburu untuk menyingkirkan Carla lebih cepat, agar bisa merebut Ananta dari pelukan Carla.

Namun pada akhirnya Rachel yang cantik dan mapan itu harus menemui ajalnya dengan tragis dalam usia muda karena dihantui perbuatannya sendiri yang dirasuki cemburu.

Itulah sedikit gambaran novel terbaru karya saudara Erri Subakti dan Arimbi Bimoseno, duo penulis beken di Kompasiana yang kita kenal. Sebuah cerita yang belum usai sebenarnya.

Novel setebal 240 halaman terbitan Elexmedia Komputindo ini memang menjadi karya luar biasa sahabat kita ini karena ditulis tidak pakai lama. Ditulis dengan kedalaman jiwa dan penuh makna kehidupan. Novel yang tidak biasa tentunya. Tidak berlebihan jadinya bila bagi pecinta novel untuk menjadikan karya ini sebagai koleksi.

Beruntung bisa mengenal kedua sahabat penulis ini bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun pernah bersua dan pernah menjadi teman diskusi dalam penulisan.

Dalam novel ini dari sekian banyak kata-kata kehidupan ada seuntai kata pada halaman 151 yang sangat merangsang minat  saya kutipkan untuk kita selami bersama:

maafkan dan lupakan

demi dada yang lapang

maafkan dan lupakan

demi jiwa yang tenang

maafkan dan lupakan

demi masa kini yang terang

maafkan dan lupakan

demi masa depan yang gemilang

maafkan dan lupakan

demi langkah yang ringan

maafkan dan lupakan

demi cinta yang membebaskan

Kecemburuan yang Mematikan

Bila hati sudah dibalut cemburu oleh cinta yang melekat, maka sulit ada kata memaafkan hati untuk melepaskan. Seseorang yang dilanda cemburu, maka akan bisa kehilangan akal sehatnya dan melakukan hal yang tak terduga demi meraih keinginannya.

Jadi maafkan dan lupakan demi cinta yang membebaskan, inilah obat yang menyembuhkan bagi hati yang cemburu. Ramu dan menjadi makanan untuk melembutkan hati.

Kecemburuan adalah penyakit  hati mematikan  sejak manusia ada. Bukan hanya dalam hal percintaan. Dalam hal lainnya hati yang cemburu seringkali membuat hidup tak nyaman.

Maafkan dan lupakan

Maafkan dan lupakan merupakan kata sakti yang sangat mengesankan bagi saya. maafkan dan lupakan demi dada yang lapang. Sebab kecemburuan dan kebencian itu menyesakan dada. Ia bagaikan batu yang menimbun dan sangat memberatkan. Ia dapat memacetkan aliran suara hati untuk melapangkan dada.

Bila kecemburuan masih menyesaki dada, maka jangan harap akan ada ketenangan yang diperoleh. Sebab itu maafkan dan lupakan demi jiwa yang tenang. Karena kecemburuan itu bagaikan rasa gatal yang membuat kita dalam kegelisahan. Ia bagaikan serabut yang tumbuh dalam hati, sehingga menyebabkan tiadanya ketenangan.

Dalam hati yang masih ada kecemburuan, maka pandangan menjadi tak jernih lagi. Akibatnya membuat kita tak lagi bisa jelas melihat, maka maafkan dan lupakan demi masa kini yang terang. Hidup diliputi kecemburuan, tak heran akan membuat kita acapkali gelap mati melihat persoalan.

Bila hati    dipenuhi kecemburuan,  pandangan            menjadi tak luas dan energi akan  banyak terbuang untuk sesuatu yang tak berarti,maka maafkan dan lupakan. Bukan demi siapa-siapa. Tetapi demi untuk diri sendiri dandemi masa depan yang gemilang.

Sekali lagi, bila tak bisa memaafkan dan melupakan kecemburuan yang ada, pasti akan membebani hidup. Tiada ketenangan dan timbul banyak masalah. Dengan demikian, langkah akan terasa berat menjalani hidup. Tidak jarang yang stress dan mengalami gangguan jiwa. Untuk itulah, maafkan dan lupakan demi langkah yang ringan.

Akhir kata, terima kasih yang teristimewa saya haturkan untuk Mas Erri dan Bu Arimbi yang sudah berkenan mengirimkankaryan yang luar biasa untuk menjadi bukan sekadar bacaan. tetapi memberikan kesempatan bagi saya untuk menyelami.

-

RUH DARI NOVEL THE SMILING DEATH

Oleh: Stefanus Toni a.k.a Tante Paku | 13 November 2013

Ananta memulai dari awal, mengecup kening lalu turun ke hidung sementara tangannya melepas juntaian lingerie yang melekat di tubuh Rachel. Di saat Ananta mau melumat bibir Rachel, tiba-tiba mata Rachel terbelalak. Halaman 3.

Seperti melihat adegan film gaya Hollywood, novel The Smiling Death  Senyuman Berbisa di awali dengan tokoh perempuan yang bernama Rachel dalam adegan yang cukup sensual, menampilkan lekuk-lekuk tubuh sexynya di kamar yang romantis, sementara sang pria tengah asyik mandi, begitulah adegan awal dalam episode “Malam Pertama”.

Setiap membaca buku karya Kompasianer saya selalu ingin menikmatinya dengan pelan dan seksama seraya mengagumi kelincahannya dalam merangkai kata. Yang ada dalam pikiran saya BUKAN untuk mencari kelemahannya, tapi pikiran saya biarkan hanyut larut ke dalam imaji yang dituangkan dalam karya kreatifnya itu. Tentu saja kalau ingin menelitinya lebih lanjut saya harus membacanya berulangkali, tapi bagi saya cukup sekali dan bisa mengunyahnya dengan baik, apalagi sudah terbiasa membaca karya-karya sang penulis, seperti ada keakraban tersendiri, tinggal kita menyimak apa yang akan didongengkannya kali ini.

Membaca novel hasil karya Erri Subakti yang berkolaborasi dengan Arimbi Bimoseno ini, saya bertanya apa yang akan disampaikan dalam novel tersebut? Ah, saya tidak akan membuatkan ringkasan ceritanya, terlalu panjang ditulis dan bisa membuat Anda malas membacanya.

Alur cerita dalam novel tersebut sudah saya duga ketika membaca di halaman 13 dan ditegaskan kembali di halaman 17, semua pasti tentang DENDAM CINTA. Karena ke dua penulis memang punya jam terbang tinggi di bidang fiksi, cerita yang biasa bisa jadi luar biasa bila ramuannya menarik. Kesulitannya dalam berkolaborasi, satu sama lain harus mampu menyambungkan kisah demi kisah hingga pembaca seperti membaca karya satu orang. Ini jelas dibutuhkan kejelian dari masing-masing penulis untuk menggabungkan imajinasinya melebur tanpa terlihat kejanggalannya. Mas Erri Subakti dan Mbak Arimbi Bimoseno telah berhasil melakukannya.

Episode demi episode selalu di awali dengan judul dan puisi dan di akhir episode pun dengan puisi.  Puisi-puisinya  seperti nada yang mengiringi judulnya untuk mendeskripsikan cerita yang akan disajikannya. Dan mereka berdua tetap konsisten dengan judul bab serta mengawali dan mengakhiri dengan puisinya,  sementara Carla, Rachel, dan Ananta yang tokoh utamanya memainkan perannya dalam lautan puisi tersebut.

Cinta memang tak mengenal persahabatan, sahabat sejati sekali pun, ketika cinta sudah hinggap di dada, menjadi jahat pun dihalalkan. Walau mereka berpendidikan tinggi, hidup berkecukupan, pekerjaan mapan, sekali jatuh cinta pada orang yang sama, membunuh pun tidak menjadi persoalan. Nothing is impossible, cinta memang ada yang begitu.

Ananta yang dicintai 2 wanita cantik dan mapan akhirnya menimbulkan persoalan yang berakhir mengenaskan. Walau diceritakan dengan alur meloncat-loncat, namun semua tetap terangkai dengan bulat, karena masing-masing diceritakan kilas baliknya untuk memperjelas tokohnya. Penceritaannya tidak rumit, enak diikuti, tidak cape kita membacanya, pengalaman banyak menulis, membuat mereka berdua begitu lancar bercerita.

Namun bila mencermati penyakitnya Carla, karena diceritakan mengalami penyumbatan pembuluh darah, walau pengarang tidak secara jelas mendeskripsikan tentang penyakit penyumbatan pembuluh darah itu sendiri. Sebab penyumbatan pembuluh darah sendiri ada 3 jenis untuk membedakannya, orang awam biasa menyebut hal ini sebagai STROKE. Entah stroke jenis apa yang diderita Carla, stroke iskemik, Stroke hemoragik, dan Transient Ischemic Attack? Sebab masing-masing mempunyai penanganan yang berbeda, dan tingkat penyembuhannya pun berbeda pula. Tapi entah mengapa kemampuan finansial  Clara dan Ananta ketika sudah menjadi suami istri tidak menuntaskan pengobatannya tersebut?

Hasil CT Scan pun akan mengetahui kondisi pembuluh darah dengan memberi suntikan pewarna, bila ada racun dalam darahnya akan ketahuan juga. Well saya berpikir, ah pengarang memang ingin mempercepat kisah dengan tidak perlu detil, sebab bila terjadi demikian, cerita pasti akan berbelok arah ke mana-mana, karena memang itu hanya sebagai bumbu untuk  memperkelok cerita dengan lebih mudah. Seperti kena HUKUM KARMA, perbuatan jahat akan berakhir dengan tidak baik, begitulah pesan dalam cerita yang berakhir dengan tragis ‘tragical moment’ pada beberapa tokohnya.

Membaca novel “The Smiling Death” alias “Senyuman Berbisa” walau kisah cinta, Anda jangan mengharap sebuah kisah romance yang ditulis lembut mendayu seperti di ruang pijat refleksi yang damai menenangkan. Membaca judulnya, saya mengira artinya SENYUMAN KEMATIAN ternyata “Senyuman Berbisa” entah diksi ini menggambarkan pada bab berapa, tapi jelas ini kisah cinta di ranah PENGUSAHA MAPAN kelas Jakarta.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, gaya film Hollywood semakin terasa pada bab terakhir, tidak nyambung dalam cerita-cerita sebelumnya, tapi bisa jadi sinyal bahwa novel kolaborasi akan bersambung dengan judul “Senyuman Kematian”, sepertinya akan menjadi kisah yang seru dengan intrik-intrik politik, diselingi kejar-kejaran dan letusan peluru, waow pasti seru nih, kita tungguh saja dah, apakah ada kolaborasi jilid dua?

Untuk menyimak cerita yang cukup mengasyikkan tersebut, silahkan pembaca berburu di toko-toko buku, sebab novel tersebut sudah beredar luas karena memang diterbitkan oleh penerbit besar.

Judul novel : THE SMILING DEATH: Senyuman Berbisa

Author: Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun terbit: November 2013

-

IBLIS PUN CEMBURU

Oleh: Muhammad Armand | 13 November 2013

TERCULIK atensiku di permulaan novel ini: “Di saat Ananta mau melumat bibir Rachel………”. Senggolan aksara erotik ini sukses membalikkan ingatanku menyasar Fredy Siswanto. Pemaknaanku; penulis novel ini hendak menghipnotik pembaca dengan tuturan seksualitas. Dan itu sukses. Sukses kujamah novel itu, till the end.

Sembrono

Kedua penulis jebolan Kompasiana ini, memamerkan kisah umum yang bersentuhan dengan Psikologi Kesehatan, apakah itu?. Dialah bernama CEMBURU, hingga tokoh sentral -Rachel- terbunuh oleh sebuah kecelakaan tunggal. Walau subtansinya; Rachel telah mati sebelum mati. Rachel telah mati setelah dibuang Wulan di tong sampah saat ia masih bayi memerah.

Tokoh Rachel inilah paling CILAKA sepanjang novel ini. Begitu sembrononya hidup seorang Rachel, betapa tidak, ia berpendidikan tinggi, cantik sekali, desainer kesohor (mungkin maksud penulis adalah arsitek, red), English-nya ok’s banget. Faktanya: Rachel ‘gagal hidup’. Rachel menanggung cemburu kelewat TINGGI namun RENDAH dalam pengelolaan cemburunya kepada Carla -sosok wanita yang bersahaja dan tulus, cantik pula- yang kematiannya terjadi sebelum kematian yang sesungguhnya.

Ekstrim

Beruntungnya seorang pria bernama Ananta, dicintai dua wanita cerdas, ayu dan berkarier. Pagutan cinta itu bersumber dari Dwo Sahabat: Rachel dan Carla. Sekalipun kedua perempaun itu, tewas. Carla tewas di tangan Rachel atas nama racikan obat, dan Rachel mencium mautnya di pagar pembatas. Titik ekstrimnya: Carla mati sebelum waktunya, Rachel mati setelah beberapa kali alami ‘kematian’.

Kisah Devian

Lalu, saya membatin, ini kok begini alur kisahnya. Rachel dari awal hingga akhir, tiadalah baik-baik nasibnya. Dibuang saat bayi, disiksa ‘ayahnya’ di kamar mandi, cintanya kandas, dan menikah tak bahagia, tewas pulak. Ini melanggar ‘keadilan sosial’. Karena: Nyaris kisah-kisah derita, pilu, sedih, merana, di akhir dengan sedikti sukses ataukah sedikit bahagia.

Teknik-teknik tercinta (Love Addicted) dan terluka Si Malang, Rachel. Di atas ambang kemanusiaan, hingga Iblis Pun Cemburu atas cara-cara Rachel menghabisi Carla. Iblis tiada pernah membunuh manusia secara langsung, Iblis ‘hanya’ piawai dalam intrik dan godaan maut. Sedang Rachel memiliki keduanya, penggoda puluhan lelaki dan ‘menyembahnya’, termasuk Si Roy (akademisi) dan Ardian (Kandidat Doktor). Seluruhnya, kleper-kleper di kendali Rachel. (halaman 50)

Psikiater-Psikolog

Terkuaklah penyakit (desease) Rachel, gangguan jiwa akibat koleksi-koleksi problematika dahsyat sepanjang hidup dan matinya. Penulis novel ini sedikit kecolongan sebab penulis mendominankan pull treatment kepada psikiater. Penulis novel ini ‘khilaf’. Rachel wajib melibatkan psikolog, karena penyakit Rachel kominasi sakit jiwa dan disfungsi saraf. Psikiater sanggup menenangkan saraf Rachel, dan psikolog sanggup menenangkan jiwa Rachel. Bila saja ini terjadi, novel ini akan indah di mataku, dan saya akan bertambah ilmu bagaimana cara memenej cemburu dengan kekuatan mental, cerdas dan wajar. Namun, itu tak kutemukan dalam novel ini

Ustad Jeffry

Usai membaca novel ‘dahsyat’ ini, di ruas-ruasnya, tertera diskusi perkara Uje dan wafatnya. Wafatnya Uje adalah takdirnya. Tobatnya Uje sebelum menjadi muballik adalah pilihannya. Hingga dialog filosofis ini sukses kuadopsi saat memberi kuliah kepada mahasiswa(i)ku: “Anda menjadi dokter, dokter gigi, sarjana kesehatan masyarakat, sarjana keperawatan. Semua itu adalah takdir. Dan Anda rajin-malas kuliah, meneliti-tidak meneliti, itu adalah pilihanmu”.

Yeeeeeeeeeeeeeeep….

Demkianlah sekelumit apresiasiku terhadap karya kedua saudara saya: Erri Soebakti-Arimbi Bimoseno^^^

Foto dok. Elex Media Komputindo

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

-

KEINDAHAN KARMA SEORANG ARIMBI

Oleh: Pody Ken

17 Agustus 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/08/17/keindahan-karma-seorang-arimbi-480425.html

.

Suatu siang, bel apartemen saya berbunyi dan Suami saya pun menjawab via intercom. Ah, ternyata si Pak Pos yang mengatakan ada paket kecil yang ditujukan untuk saya dan tidak bisa dimasukan dalam box kami karena saya harus menandatangani bukti terima secara langsung.  Well, saya pun turun. Dalam lift, rasa penasaran muncul. Paket apa? dari siapa? Mengingat sudah beberapa tahun saya menetap di Brussels dan seringkali keluarga, teman, saudara, mengirim bingkisan apa saja untuk menghibur saya yang jauh dari keluarga di Indonesia.

Excuse moi Madame, mais il faut que vous signez ” ucap Pak Pos bule itu meminta maaf karena mengharuskan saya menerima langsung.

C’est pas grave,” jawab saya tersenyum.

Saat menerima bingkisan cokelat  itu, saya langsung menebak dalam hati. Ini pasti sebuah buku. Voila! Tebakan saya benar. Iya, ini buku, Tak lain kiriman spesial dari teman baik saya Arimbi Bimoseno yang beberepa waktu lalu mengirimkan pesan melalui Blackberry Messenger jika ia telah menerbitkan sebuah buku berjudul KARMA.

Senang? Jelas. Meski hanya sebuah buku, namun saya merasakan energi spirit saya menjadi dua kali lipat setelah menerima buku itu. Bukan karena teman baik saya yang menulis, namun saya tahu buku ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang apa adanya. Hidup adalah hidup. Hidup adalah pilihan manusia. Banyak potret kehidupan direkam dalam mata hati seorang Arimbi, kemudian bercampur dengan kegalauannya, kebahagiaannya, keingintahuannya. Saya tahu persis Arimbi sangat jujur untuk urusan perasaan dan kegelisahan akan sekitarnya. Sudah pasti buku ini enak dibaca.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu di saat saya masih di Indonesia, di saat luang, di tengah padatnya pekerjaan, kami menyempatkan diri berbicara mengenai makna hidup. Berdiskusi kecil bahkan kadang sedikit ngotot untuk mengemukakan apa yang ada dipikiran, hati dan sikap atas sebuah fenomena yang kami lihat sehari-hari. Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana ini? Apakah ini? Itulah kegelisahan seorang Arimbi.

Kecintaan Arimbi akan kehidupan dengan kejutan-kejutan Karma yang diperlihatkan di sekelilingnya bukan bualan belaka. Ia tahu betul bagaimana meramu sebuah realita dalam tulisannya yang dalam. Dengan istilah-istilah yang membuat pembacanya mengerti titik poin yang dimaksud. Meski saya tidak suka membaca tulisannya soal korupsi, karena saya sudah lelah membaca kasus ini terus menerus di portal berita Indonesia, bukan berarti paparan Arimbi akan karma pelaku korupsi tak menarik. Sekali lagi, dia memaparkan sebuah kegelisahan yang lain. Tak melulu soal nyanyian cinta atau sketsa kehidupan di masa kecil.

Karma hanya soal kata. Boleh dipercaya, boleh juga tidak. Namun yang saya tahu setiap perbuatan baik maka tujuan akhir pun akan baik. Begitu pun sebaliknya. Tinggal bagaimana kita memilih mau berjalan di rel yang mana. Saya yakin Arimbi pun bermaksud baik mengumpulan catatan-catatan kecilnya  dalam buku ini. Semoga pun menghasilkan Karma positif bagi dirinya sendiri yang telah berbagi cermin hidup, realita, dan pengetahuan.

13452068191480551177

Dan saya pun menikmati keindahan KARMA Arimbi di sore hari sambil menyeruput teh manis dan sepiring pastel goreng. Hmm….Heaven. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

ARIMBI BIMOSENO: BUTUH KEBERANIAN MEMBACA BUKUMU

Oleh: Ay Satriya Tinarbuka

19 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/19/arimbi-bimoseno-butuh-keberanian-membaca-bukumu-478379.html

.

Membaca nama Arimbi Bimoseno membuatku berpikir bahwa pemberi nama ini tentulah mengetahui tokoh Arimbi sebagai istri Bimasena dalam khazanah pewayangan. Mungkin orang bilang ‘apalah arti sebuah nama’, namun nama ini cukup membuatku merasa punya teman yang memiliki minat sama.

Aku adalah penggemar tokoh Bimasena dalam pewayangan karena dialah satu-satunya keluarga Pandawa yang memahami ilmu tentang hidup dan kehidupan. Jadi jangan heran kalo background foto profilku ada wayang Bimasena …

Ketika mulai membaca buku Mbak Arimbi, aku seperti melakukan perjalanan yang sama seperti perjalanan Bimasena dalam kisah Dewaruci. Sebuah perjalanan memasuki bilik bathin yang kecil namun justru dalam kecilnya ruangan bathin memuat alam semesta, seperti sebuah paradoks.

Perjalanan Bimasena memungkinkan untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, sehingga kita bisa memahaminya secara lebih utuh, terbebas dari batasan ruang-waktu sekalipun.

Mungkin kita melihat diri kita sebagai manusia baik karena kita memandang dari satu sisi. Ketika kita melakukan perjalanan bathin untuk melihat diri kita dari sudut pandang lain, kita bisa temukan keburukan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dibutuhkan keberanian untuk mengakui keburukan-keburukan tersebut. Dan ketika keberanian itu diperoleh, kita bisa memahami bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Aku juga perlu membangun keberanian untuk mengakui bahwa caraku mengungkapkan perjalanan bathin masih sangat belepotan, kalah jauh dengan bahasa Mbak Arimbi yang rileks. Mungkin pengalaman bathinku juga masih kalah jauh … hehehehe ….

Baca lagi bukunya ah …… mulai dari judulnya “Karma Cepat Datangnya” ….

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

AWAL PENGAKUAN ADALAH PENEMUAN DIRI

Oleh: Astoko Datu

18 Juli 2012

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/07/18/awal-pengakuan-adalah-penemuan-diri-478751.html

.

Pengakuan itu adalah Berbagi Diri.. Pada awalnya adalah Penemuan diri. Penemuan diri bisa merupakan kesadaran diri yang menggembirakan. Orang itu bahagia menemukan diri yang ternyata memuaskan. Orang itu gembira, titik. Orang itu bangga dan bahagia, titik.

Tetapi Penemuan diri pada kenyataan, atau penemuan atas diri sendiri, yang apa adanya, itu sering menyakitkan. Sebab ternyata kita serba tidak sempurna. Maka pertanyaannya adalah “dapatkah kita sampai pada pengakuan itu.?” Pengakuan yang pada dasarnya adalah menyampaikan hal dirinya sendiri kepada orang lain – berbagi diri pada orang lain.

Dengan cermin cerita ini anda tentu maklum dengan maksud saya. Sebuah penemuan ditahun 1984. Saat itu penulis mengikuti Penataran P4, 120 jam, sekitar tiga minggu. Peserta adalah para pimpinan Orpol, Ormas, Lembaga Pendidikan. Maka selain para peserta itu pimpinan dan orang dewasa penuh, juga nampak beberapa peserta kaum muda. Mereka dari Ormas Mahasiswa atau Pemuda. Berkumpul bersama dalam kancah “pendidikan” dan pergumulan bersama tentulah wajar terjalin kerjasama belajar bersama dan pertemanan diantara orang dewasa (Andragogi). Waktu itu seorang aktivis mahasiswa yang seorang gadis yang cerah menjadi bintang tenar ditengah kami sekitar 15 orang dalam satu kelompok kerja. Dan eloknya anak itu nempel saja pada saya dan ada saja yang ditanyakan pada pemulis tentang apa saja. Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang menyangkut pribadinya saya berikan dia fotocopy halaman halaman buku karya tulis teman seklas saya yang sedang belajar untuk S2nya di Pilipina. Saya beranggapan itu praktis, dan menjawab pertanyaan. Buku itu tentang pembangunan pribadi. Empat, lima lembar saya berikan kepada gadis itu. Dengan maksud baik: membantu dia. Apa yang terjadi di akhir penataran kami. Gadis itu salah terima, teks yang saya fotocopy itu disangkanya tulisan saya dan dia kecewa besar ketika saya luruskan persepsinya.

Aku menemukan diriku bahwa aku memang bukan penulis teks bacaanku itu dan itu membuat gadis itu kecewa. Tak kusangka dia berfikir itu semua karyaku……. Dan aku menyesal mengapa tidak buku itu saja seluruhnya saya berikan. Image dan gambaran gadis itu salah dan itupun mengejutkan dan aku juga menyesal mengapa bukan aku sendiri penulis buku itu. Kenyataan itu menyakitkan saat itu.

Pengalaman actual yang memberikan kesan berbeda adalah saat aku menerima buku dan membaca karya tulis Rekan kita Ibu Arimbi Bimoseno. Buku itu memberi “Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri” seperti judulnya, juga kepadaku. Dan itu membuat aku dan kehidupanku bercermin. Dan itu membuat aku bisa mengukur diri dan memperoleh kebahagiaan, seperti diharapkannya : “Semoga buku ini menorehkan warna cerah dalam bingkai lukisan hati pembaca”.

Awalnya saya kurang bahagia bahwa Rekan Arimbi menggunakan paradigma Karma dalam hampir seluruh bukunya. Saya merasa Rekanku ini terbelenggu oleh “Karma”. Dia ini mengajak Penemuan Diri dengan tuntunan Karma, bahkan membuktikan hokum karma dalam cermin kehidupan, dan mengajak menyikapi Peristiwa terkungkung dalam kisi-kisi Karma.

Tetapi saya semakin paham bahwa karma dipakai oleh Rekanku ini sebagai methoda pendekatan dalam penemuan diri, pemahaman peristiwa maupun menguji prinsip prinsip kehidupan yang kita pakai dalam kehidupan ini.

Sebab diakhir bagian buku ini Rekan penulis ini menunjukkan kiprah kebebasan hatinya dalam …..” C I N T A “. Diawali dengan Cinta itu “kebebasan” dari dosa dan dari kepentingan sendiri sampai pada Cinta itu “keselamatan dari Tuhan” hingga Cinta itu “kedamaian”.

Buku ini buku kesejukan yang tidak menyakitkan dari seorang penulis yang dalam relaksasi mewartakan kedamaian. Dia itu menurut Rekan Aridha P. disebut Mutiara yang bernyawa. Saya melihat Ibu Arimbi Bomoseno itu adikku dalam usia tetapi kakakku dalam kearifan, karena dia berani dan berhasil menulis. Sementara saya belum menerbitkan tulisan apapun. Di Kompasiana ini tulisan sebaik apa dari saya baru merupakan percobaan pembelajaran aseli tulen 100% .

Inilah pengakuan, ini tulus, lega, tanpa beban dan kejengkelan, berbeda dari cermin cerita pertama diatas. Dala cermin kedua ini Penemuan diri yang jujur nyata dan menggembirakan, karena kebenaran dan kepercayaan akan Tuhan yang memberikan Rahmat dan Hidayahnya sesuai dengan KehendakNya yang kudus.

Semoga pengakuan ini menggelitik anda yang akan memasuki bulan Suci bulan Ibadah Puasa. Semoa anda semua menemukan baik religiositasnya maupun spiritualitasnya, seperti kita baca dari tulisan baru-baru ini dari Ibu Arimbi Bimoseno juga

Selamat memasuki Bulan Ramadhan.

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

INI DIA PENULIS PRODUKTIF DI KOMPASIANA

YANG KENA KARMA

Oleh: Stefanus Toni atau Tante Paku

17 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/17/ini-dia-penulis-produktif-di-kompasiana-yang-kena-karma-470519.html

.

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, demikian WS Rendra dalam penggalan puisi Paman Doblang, maknanya dalam berjuang itu tidak harus angkat senjata dan berperang mengorbankan nyawa, namun dengan MENULIS kita juga telah ikut berjuang dalam mewarnai kehidupan ini. Namun berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita sebar dalam media umum, sebab dari katalah tercermin apa yang ada dalam isi hatimu.

Ternyata ada seorang Kompasianer yang cukup produktif dalam menulis di sini, lalu apa KARMA yang di dapatkannya dari hasil menumpahkan banyak kata-kata itu?

Sedikit Tentang Karma

Ketika membaca kata KARMA, saya teringat dengan ajaran TAO, bahwa karma adalah HASIL DARI PERBUATAN yang telah dilakukannya di masa lampau atau saat itu juga, tentu saja perbuatan baik akan memperoleh karma yang baik, dan karma yang buruk akibat perbuatan jeleknya.

Jadi secara ringkas KARMA adalah PERBUATAN atau BERBUAT.

Sementara tentang KARMA dari Kitab Fiqih Tarbiyatul Abna Edisi Indonesia “Bagaimana Nabi Mendidik Anak” Diterjemahkan oleh Al Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim. Penerbit Media Hidayah, Yogyakarta. 2005, sedikit saya kutipkan :

“Keshalihan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat.Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orang tua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.

Pengaruh-pengaruh tersebut di atas datang dengan berbagai bentuk. Di antaranya, berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuk nya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek yang akan diterimanya.”

Artinya, dalam Agama Islam mengenal HUKUM KARMA.

Dalam ajaran Budhisme Sang Buddha bersabda: “O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang kami namakan Kamma.” (Anguttara Nikaya III : 415).

Semua perbuatan yang dilakukan atau disertai dengan kehendak berbuat (cetena) merupakan Kamma. Kehendak dapat berarti keinginan, kemauan, kesengajaan atau adanya rencana berbuat.

Jadi Hukum Karma adalah hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil perbuatan (kamma-vipaka dan kamma-phala), Hukum kamma bersifat mengikuti setiap Kamma, mutlak-pasti dan harmonis-adil.

Dan Orang Jawa mengenal Pitutur Adiluhur “Nandur kabecikan, ndhedher kautaman”, inilah HUKUM KARMA Orang Jawa yang mengandung arti : Jika orang berbuat kebaikan, maka pada suatu ketika dia akan mendapatkan kebaikan. Demikian pula jika orang melakukan kejahatan, maka dia akan mendapatkan yang serupa.

Hukum demikian berlaku surut, ke belakang, dan juga ke depan. Maksudnya, jika ortu berbuat baik atau melakukan tindakan keutamaan, maka anak atau cucunya kelak BAKAL MEMETIK BUAH MANIS dari keutamaan sang ortu, demikian juga sebaliknya, perilakunya buruk anak cucunya akan memetik buah keburukan pula.

Nasehat orang tua berdasar keyakinan tersebut agar kita selalu NANDUR KABECIKAN, NDHEDHER KAUTAMAN, menanam kebaikan, menyemai keutamaan. Jika semua umat mengamalkan AJARAN LUHUR atau HUKUM EMAS ini, niscaya negara (rakyat) bakal sejahtera.

Lantas, KARMA apa yang layak diterima oleh seorang penulis?
Apakah HUKUM KARMA atau KARMA SIMALAKAMA?
Atau KARMA yang lain?

Buku Karma

Kompasianer yang mengaku bernama Arimbi Bimoseno, seorang ibu dari dua anak, akhirnya menerima KARMA setelah menulis di Kompasiana hampir 1000 tulisan sudah di posting di sini. KARMA itu adalah JUDUL BUKU PERDANA yang berhasil ia hasilkan akibat perbuatannya yang tak kenal lelah dalam mengarungi ribuan kata-kata itu.

Buku Karma Cepat Datangnya sudah tersedia di toko-toko buku dan terpajang di deretan bestseller

Buku yang berjudul KARMA CEPAT DATANGNYA benar-benar buku yang BERNAS dengan kata-kata bijak, sepertinya saya membaca banyak kata-kata mutiara yang terangkai begitu indahnya.

Dalam catatan sang penulis mengatakan bahwa KARMA datangnya seketika dalam artian mengajak pembaca untuk berhati-hati dalam bertindak dan mengkritisi segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini. Dan Karma cepat datangnya sendiri adalah artikel yang terdapat di halaman 114, silahkan Anda mencermatinya sendiri KARMA seperti apa yang dipahami penulisnya.

Renungan Harian

Membaca buku KARMA CEPAT DATANGNYA ini, saya seperti membaca buku RENUNGAN HARIAN, dalam alinea pertama mengutip salah satu ayat dalam Kitab Suci kemudian diuraikan dalam kisah keseharian sebagai inspirasi  Nilai Kehidupan sehari-hari.

Demikianlah sajian dari buku mbak Arimbi Bimoseno ini, selalu diawali dengan kalimat-kalimat SPIRIT OF LOVE kemudian dijabarkan dalam keseharian, ketika Anda membacanya cukup untuk sejenak mengikis kegundahan hati, ada banyak renungan dan kisah yang ditulisnya  begitu mudah dan tidak bertele-tele.

Ada juga kisah yang mengharukan, tentang perjuangan seorang anak SMU (Berseragam putih abu-abu) yang mengimpikan bisa mengenakan sepatu sekolah yang lagi trend saat itu, namun keterbatasan ekonomi keluarganya tak memungkinkan untuk membelinya, bayar SPP saja sering telat. Namun ada kegigihan yang patut dicontoh ketika ia berjuang untuk memdapatkan uang, walau harus nekat merelakan uang SPP-nya untuk suatu biaya kompetisi yang ia ikuti. Silahkan Anda membaca Sepatu Eagle Putih Biru. Apakah itu kisah pribadi penulisnya? Atau sahabatnya? Biarlah menjadi rahasia penulisnya deh.

Bagi pecandu agama atau tidak suka agama, bisa jadi akan tergelitik  mendebat beberapa artikel yang cukup membuka peluang untuk mengomentarinya (Baca : Fanatik Itu Harus), namun sang penulis cukup cerdik menutup peluang perdebatan dengan mengatakan bahwa tulisannya berada di kolom FIKSI. Namun apakah semua tema yang menyinggung AGAMA itu berada di kanal FIKSI bila sudah dibukukan?

Agama dan Tuhan

Sebagai masukan saja, tema tentang Agama dan Tuhan lebih menarik lagi kalau disusun menjadi buku tersendiri saja, agar kontemplasi sang penulis dalam menggali makrifat dalam wawasan Theosofi sebagai upaya menggali kesempurnaan (perfection) bisa menjadi puzlle yang lengkap.

Akhirnya Anda harus bijak untuk melumat secara utuh buku KARMA CEPAT DATANGNYA ini, karena inti dari keseluruhan artikel yang terbagi dalam 4 bab itu (Hati, Cermin, Peristiwa,  Cinta) layak direkomendasikan sebagai buku MOTIVASI KEHIDUPAN. Bahasa penyajiannya sangat gampang, contoh-contoh sebagai illustrasinya bisa diterima logika, juga ada beberapa kiat yang memang bijak mengajarkan arti kehidupan ini. Semua bab menyuguhkan siraman cerita-cerita motivasi yang menggugah pikiran Anda.

Sebagai buku perdana, mbak Arimbi Bimoseno benar-benar telah menerima KARMA YANG BAIK, apalagi penerbitnya Pt Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia), tentu menjadi jaminan bahwa buku KARMA CEPAT DATANGNYA adalah buku yang LAYAK ANDA BACA dengan pelan-pelan dan merenungkannya.

Tentu saja, saya berharap masih ada BUKU LAIN dari mbak Arimbi yang akan diterbitkan kelak. Sebab masih ada mbak Bimo dan mbak Seno yang merupakan bagian dari misteri nama pewayangan yang melekat dalam kesatuan nama bekennya di jagat tulis menulis ini, serta beliau masih punya stock PROSA dan PUISI ratusan jumlahnya, juga tulisan-tulisan lepas lainnya, kita tunggu saja gebrakan berikutnya.

Selamat berkarya dan mewarnai kehidupan ini mbak Arimbi Bimoseno, Anda layak dapat bintang.

Penerbit PT Elex Media Komputindo
Kompas Gramedia Building
Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270
Telp (0271)5365110-53650111
ext. 3201 – 3202
Web Page : http://www.elexmedia co.id

Illustrasi : Facebook.com

BONUS :

Barangkali  di Kompasiana ini belum ada  sebuah tulisan yang memberikan BONUS buat pembacanya?

Bahkan Admin pun sepertinya tidak pernah memberikan BONUS lho, seringnya memberi gratis BANNED dengan rendah hati. Baiklah, Tante Paku cukup MURAH HATI memberikan BONUS yang SANGAT INSPIRATIF buat memicu dan memacu adrenalin energi positif Anda.

Arimbi Bimoseno quote : Memperkaya hati dengan ENERGI POSITIF  adalah pilihan orang-orang yang sudah mengerti. (Baca halaman 44).

Saksikanlah video di bawah ini yang akan menggambarkan bagaimana ENERGI POSITIF itu akan menular dengan cepat sekali, dan inilah RINGKASAN RESENSI buku KARMA  CEPAT DATANGNYA dalam VIDEO yang INDAH SEKALI!

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

ARIMBI BIMOSENO, “MUTIARA BERNYAWA” DALAM KARYAMU

Oleh: Aridha Prassetya

16 Juli 2012

http://sosok.kompasiana.com/2012/07/16/arimbi-bimoseno-%E2%80%9Cmutiara-bernyawa%E2%80%9D-dalam-karyamu-471731.html

.

Dear kompasianer,

Ini cerita lain saya tentang Arimbi Bimoseno, Membaca bukunya,saya bagai menemukan “mutiara bernyawa”. Saya sangat yakin, buku “KARMA CEPAT DATANGNYA”, pasti ditulis dalam keadaan paling hening dan bening. Seorang Arimbi sangat dalam berkontemplasi dalam hening relaksasi.

13424166532133236456Pertama mengenal tulisannya, saya mendapatkan pelajaran berharga. Entah siapa yang duluan mengajak berteman. Terpenting saya menangkap bahwa Arimbi bukan penulis biasa. Maka, tertariklah saya untuk “berguru” padanya. Mengikuti tulisan-tulisannya, saya mempunyai imajinasi bahwa Arimbi Bimoseno adalah sosok yang gemar menjaga jarak, menjaga image dan mahal senyum. Namun makin mengenalnya, kami malah menjadi gemar saling tersenyum, saling mendukung, saling “memeluk” dan menguatkan dalam karya.

Kesan yang masih tersisa, Arimbi adalah perempuan yang “tidak peduli dunia”. Ia tidak sibuk berpikir tentang kawan atau lawan. Ia “bergumul” dengan kalbunya sendiri lalu menulis untuk dirinya sendiri. Ia menulis sebatas apa perlu ia tulis.

Pribadinya, tidak begitu banyak cakap (setidaknya, itulah persepsi saya hanya berdasarkan membaca tulisan-tulisannya).

Ia bahkan tak pernah peduli, bakal diletakkan dimana tulisannya oleh sang admin. Yang saya tahu, Arimbi tetap saja menulis. Menulis tiada henti. Perhatikan saja PP Arimbi. Menulis dengan Bahasa Kalbu untuk Relaksasi . Ia hanya ingin relaksasi, tidak lebih. Tujuan penulisannya hanyalah untuk relaksasi.

Sepanjang sejarah di Kompasiana, ia tidak pernah melibatkan dirinya dalam perdebatan. Ia rajin mengunjungi dan membaca tulisan kawan kompasianer. Bila di dalamnya tidak perlu ia bicara, baginya ia pun tak perlu bicara. Ia hanya cukup meninggalkan vote, lalu pergi melanjutkan perjalanannya.

Dan ketika saya selesai membaca karya indahnya, KARMA CEPAT DATANGNYA, saya mengirim pesan. Saya katakan padanya, Mbak Rimb, terima kasih ya! Saya seperti menemukan “Mutiara Bernyawa””. Karya Arimbi, bukan hanya “indah” dan “dalam”, tapi juga BERMAKNA. Ini juga diakui banyak kawan pada link terkait di bawah nanti.

Selamat kembali rutin menulis dan berbagi di sini, Arimbi Bimoseno, guru menulis saya, yang saya cintai. Terima kasih tidak pernah berhenti berkarya.

Terima kasih untuk yang sudah membaca. Terima kasih kepada Allah SWT. Terima kasih kepada mas Raja, pak Singgih, dan mbak Nenny yang telah mengulas dengan baik isi karya Arimbi Bimoseno.

Link terkait :

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/07/11/bukan-resensi-buku-karma-cepat-datangnya/

http://media.kompasiana.com/new-media/2012/07/14/karma-cepat-datangnya/

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/10/karma-cepat-datangnya-berhati-hatilah-dalam-bertindak/

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA CEPAT DATANGNYA SEBAGAI MINDSET

Oleh: Steve Bud

15 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/15/karma-cepat-datangnya-sebagai-mindset-477972.html

.

1342324320448130901

Dengan perwajahan sampul putih, di ujung kiri dan kanan atas ditempatkan ilustrasi ranting menjulang dan ada yang saling bersinggungan, mengisyaratkan bahwa pencapaian yang didapatkan manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya konflik. Dan ilustrasi arah jalan tapak kaki yang mengarah ke penikmat cover buku ini, seolah membimbing pembaca bahwa benar “Karma Cepat Datangnya”.

Cover didukung pemilihan font yang cukup berhasil memikat persepsi “awam” tentang definisi karma yang selama ini dianggap menyeramkan. Overall, buku ini menyajikan good cover yang sarat pesan. Untuk edisi cetak ulang nanti (…amiin) saya berharap ada peningkatan desain ilustrasi pada tiap-tiap halaman. Semata agar lebih eye catching seperti pada halaman 147 dan 149. Tetap, yang terpenting adalah isi buku.

Hidup ini dinamis. Bila tidak mau mencari percah-percah pengetahuan, bersedialah selamanya berada dalam kehidupan mencekam. Gulita!! Barangkali karena itu, Arimbi Bimoseno mengajak pembaca bukunya untuk “Mendesain Masa Depan dengan Pikiran” di halaman awal, sebagai bagian penting bagi hidup kita. Dari desain kita inilah, akan senantiasa kita temui kebahagiaan, hidup sesuai yang kita idam-idamkan. Tentu saja tidak hanya pada materi, tetapi kebahagiaan hakiki di dasar hati.

‎ ​Menjadi penting pula untuk mengetahui di mana letak relevansi antara isi dan judul buku. Di mana posisi “KARMA” ini? Ternyata penulis menarik judul dari Bagian (bab) Ketiga sebagai Judul Buku: Karma Cepat Datangnya, hal 114. Didukung Pengakuan Karma di hal 154. Gagasan dalam kisah-kisah lain yang disajikan menguatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena perbuatan kita, pilihan kita, keputusan kita. Karma selalu datang kapan saja, melalui perbuatan. Setiap hari kita berbuat, setiap hari pula kita menerima akibat. Setiap hari kita sedih, setiap hari kita bahagia. Untunglah, karma bisa diubah seperti kita mengondisikan hati yang sedih agar menjadi bahagia. Menurut saya, karma dalam buku ini lebih ditekankan pada bagaimana mengolah “mindset”.

Berisi 76 judul yang terbagi dalam 4 bagian (bab), setiap judul menuju isi selalu dilengkapi dengan wisdom/quote singkat sebagai intisari yang terasa meneguhkan pembaca.

Bagian Pertama, Hati

Fase penting untuk menjadi “tidak galau” adalah menyelam ke dasar hati. Hati yang bersih akan menuntun kita pada langkah yang bersih. Hati akan menjadi pelita dalam menjawab judul “Puzzle Kehidupan”. Seperti diungkap dalam quote hal 11:

“Menjadi pengamat kehidupan akan membuat hatimu dipenuhi bunga-bunga kebijaksanaan”.

Peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak menyenangkan, seolah membuat ingin berlari dari kenyataan. Sungguh cerdas menurut saya, Arimbi Bimoseno malah menyuruh kita “Mencari Pelarian” sebagai judul di hal 7. Digambarkan melalui hubungan Cucu dengan Mbah dan Anak dengan Ibu berlidah tajam, ketidakharmonisan itu dijadikan sebagai pintu masuknya menuju gagasan;  “Kalau mau lari, larilah pada hal-hal yang membangun jiwa besarmu”. Walhasil, semua tergantung pada sikap kita menyikapi keadaan. Ada 18 judul lagi yang bisa dinikmati pembaca di Bagian Pertama ini.

Bagian Kedua, Cermin

Seseorang, termasuk kita, bisa jadi merasa bernasip kurang baik dibanding yang lain. Lalu pertanyaan terbit, apakah takdirnya memang sudah begini, bernasip tidak baik seperti ini? Di hal 55, seorang tokoh “aku” yang diceritakan ingin memiliki rumah mungil, berdoa sepanjang tahun hingga tahun ke-13 belum juga memiliki rumah, padahal setiap hari bekerja, setiap bulan dan tahun bekerja dan berdoa. Penulis menyampaikan gagasan dalam sebuah sentilan:

“Aneh! Kamu melakukan cara yang sama, mengulang-ulang cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil beda. Mana bisa.”

Begitulah, kita harus banyak-banyak bercermin pada diri sendiri dan orang lain. Bercermin pada diri sendiri membimbing pada sudah maksimalkah peran kita dalam kehidupan ini. Bercermin pada orang lain akan memberi semangat extra, bila yang lain bisa kenapa kita tidak bisa. Ada 25 judul dengan tema berbeda yang layak di simak di Bagian Kedua Ini.

Dan tentu saja, pada Bagian Ketiga; Peristiwa dan Bagian Keempat; Cinta, bisa juga pembaca rasakan kejelian penulis mengolah peristiwa-peristiwa agar menjadi lebih bermakna. Lebih dalam dan dalam lagi, bukan sekedar peristiwa kehidupan biasa sehingga banyak ibrah yang bisa kita petik.

Sebagaimana ditulisnya dalam pengantar, “Teks hanyalah teks, sampai anda menjadikannya berlian”. Satu hal yang patut diacungi jempol adalah kepiawaian penulis mengolah kisah-kisah kehidupan menjadi inspiratif. Sehingga layak untuk dinikmati setiap saat, asyik dibaca dimana-mana, menenangkan, sambil antri menunggu dokter, antri di bank, dalam kendaraan di perjalanan.

Lampung, 15 Juli 2012
Steve Bud

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA CEPAT DATANGNYA

Oleh: Katedra Rajawen

14 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/new-media/2012/07/14/karma-cepat-datangnya-471268.html

.

13423515831782550824

diambil dari porfil Arimbi Bimoseno

Arimbi Bimoseno. Bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Hanya seorang manusia yang ingin terus belajar menjadi manusia di kampus kehidupan ini.

Seorang pejalan yang telah melewati masa lalu, sedang singgah di masa kini dan terus berjalan ke masa depan. LOVE FOR LIFE – Menulis dengan bahasa kalbu untuk relaksasi.

Begitulah seorang Arimbi Bimoseno menulis di sampul belakang buku “Karma Cepat Datangnya”. Sebuah karya dari hati untuk relaksasi dan berbagi.

Sebuah buku yang ditulis dengan bahasa keseharian sebagai cermin bagi kehidupan kita. Meminjam segala peristiwa di sekitar.

Buku yang kaya dengan makna hidup ini terdiri dari 4 bagian. Hati, Cermin, Peristiwa, dan Cinta.

Masing-masing bagian berisi dengan kisah-kisah penuh motivasi dan inspirasi yang sangat cocok bagi kita sebagai pengisi hidup.

Kita umumnya selalu ingin orang lain yang berubah. Mau memahami dan memaklumi kita. Sungguh egois.

Karena kita lupa untuk mengubah diri sendiri. Lupa untuk memahami dan memaklumi diri sendiri dan orang lain.

Saat kita terlambat datang untuk rapat di kantor. Kita berharap rekan-rekan memaklumi dan memaklumi keterlambatan kita.

Sementara itu kita terlambat akibat kesiangan. Karena malamnya begadang. Kita tidak memaklumi diri sendiri untuk tidur lebih awal, agar bisa berangkat lebih pagi untuk mengikuti rapat.

Dengan keterlambatan kita, berarti kita tidak memaklumi dan memaklumi rekan-rekan kita yang telah menunggu. Menghabiskan sebagian waktu hanya untuk menunggu kita [bagian pertama hal 36 "Siapa yang Tidak Memahami].

Pada bagian kedua hal 50 dalam tulisan “Ketika Uang Menjadi Tuhan” kita diingatkan. Bahwa cinta uang adalah akar kejahatan. Cinta uang merupakan akar penderitaan.

Cinta uang bisa membuat seseorang semakin jauh dari Tuhan. Karena uang telah dijadikan tuhan.

Jaman sekarang uang telah menjadi segalanya. Demi uang kita rela melakukan apa saja.

Menjual tubuh, harga diri, kehormatan dengan menghinakan diri. Bahkan merelakan nurani tergadai dan membohongi Tuhan.

Dengan uang kita bisa membeli kekuasaan dan orang lain menderita. Dengan uang kita membeli pahala dan menyogok Tuhan.

Selanjutnya pada bagian ketiga terdapat tulisan “Karma Cepat Datangnya” [hal 114] adalah salah satu tulisan yang dijadikan judul buku setebal 204 halaman ini.

Percaya tidak percaya hidup kita tidak lepas dari yang namanya karma. Hukum sebab-akibat. Tersenyumlah, maka orang akan membalas dengan senyuman. Cemberutlah, maka seketika kita akan melihat orang ikut cemberut.

Banyak peristiwa di sekitar kita telah menunjukkan begitu cepatnya karma berbuah.

Kesalahan yang kita lakukan begitu cepat menerima balasannya. Seperti yang diceritakan dalam buku terbitan Elex Media Komputindo ini.

Seorang gadis yang diam-diam pergi dengan motor dari rumahnya. Padahal sudah tidak diijinkan mengendarai sepeda motor sendirian. Akibatnya si gadis mengalami kecelakaan.

Hal ini mengingatkan kepada kita. Setiap sebab yang kita lakukan pasti ada akibatnya. Semua itu diri sendirilah yang akan menerimanya.

Perilaku baik mendatangkan karma baik. Perilaku buruk sudah pasti menghasilkan karma buruk. Inilah hukum yang abadi.

Bagian bagian terakhir tentang cinta memuat tulisan “Selama Kamu Tidak Menerima, Selama Itu Pula Kamu Menderita” [hal 180].

Bisa menerima kehadiran orang lain dengan apa adanya membutuhkan cinta.
Dapat menerima kelelahan orang lain, butuh keikhlasan. Bisa mengakui kekuatan orang lain butuh kerendahan hati.

Mau menerima dan mengalah menghindari kita dari sifat mau menang sendiri yang merupakan penyakit kronis. Yang justru akan menyakiti jiwa sendiri.

Itulah sebabnya kita diingatkan untuk selalu membersihkan hati dan pikiran dari segala emosi negatif, agar dapat menerima setiap orang dan keadaan.

Pada bagian Bu Arimbi menulis “….. Bahwa perhitungan atas segala perilaku baik-buruk [bisa] terjadi saat ini juga, bukan [hanya] setelah mati…Bila surga adalah damai, tidak mungkin hati seseorang akan damai ketika melakukan hal kecil atau besar yang bertentangan dengan nurani…..”.

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA CEPAT DATANGNYA: BERCERMINLAH PADA KARMA

Oleh: Ida Ratna Isaura

13 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/13/karma-cepat-datangnya-bercerminlah-pada-karma-477613.html

.

Gambar: Buku Karma Cepat Datangnya – dok. pribadi

Hari ini, sesampainya saya di rumah, saya langsung celingak-celinguk mencari buku baru. Dua hari yang lalu, bapak saya menelpon. Saat itu saya langsung takut, saya kira bakal ditanya perihal perkembangan skripsi, ternyata bukan. Beliau memberi tahu bahwa ada kiriman buku sampai di rumah.

Ah. . . . Senang sekali. Entah mengapa saya merasa akhir-akhir ini saya menjadi orang yang beruntung. Emang kok, kebeuntungan itu hal yang paling utama. Dari dulu, setiap kali saya merasa beruntung, saya selalu bertanya-tanya dalam hati: Apakah ini karena saya sudah menolong seekor kucing??? Hehehehe. . . . Jadi ingat tetangga saya yang jarang sholat tapi memelihara banyak kucing. Jika ditanya apa alasannya, katanya: biar di akhirat di tolong kucing-kucing.

Back to title: Karma Cepat Datangnya. Buku karangan Mbak Arimbi Bimoseno ini, dari segi judul saja sudah sangat menarik untuk di baca. Tentunya teman-teman kompasianer sudah tidak asing lagi dengan nama pengarang tersebut. Tulisan-tulisannya di kompasiana memang khas. Seperti puisi, tapi renungan. Seperti renungan, tapi puitis.

Buku ini terdiri dari empat bagian. Yaitu Hati, Cermin, Peristiwa, dan Cinta. Dan di setiap bagiannya terdapat bermacam sub-judul yang berkaitan dengan bagian-bagian tersebut. Dengan begini, buku ini memudahkan pembaca untuk memulai membaca dari halaman mana saja yang di inginkan. Seperti halnya saya tadi. Ketika melihat daftar isi, saya langsung tertarik meloncat-loncat dari satu halaman ke halaman yang lain. Yang pertama kali saya baca adalah “Berhenti Stress” halaman 28. Lalu “Karma Cepat Datangnya” halaman 114. Kemudian Menjauh dari Orang yang Sedang Marah” halaman 42, “Pria yang Istimewa” halaman 148, dan seterusnya.

Hal yang membuat saya langsung merenung adalah ketika saya membaca kalimat ini:

“Ia tersenyum, orang balas tersenyum. Secepat itu karma terjadi. Ia cemberut, orang balas cemberut. Secepat itu karma terjadi. Ia memaki, orang balas memaki. Secepat itu karma terjadi.”

Nah, teman-teman, sudah saya kasih bocoran kan. Buku ini must read banget deh. By the way, jangan iri sama saya ya, karena saya di kasih gratis. Buat kalian yang ingin memiliki buku ini, silahkan mampir ke toko buku terdekat. Buku terbitan Elex Media Komputindo ini tentunya sangat memberikan pencerahan, pemahaman akan berbagai permasalahan hidup, dan menjadi cermin perilaku kita sehari-hari.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mbak Arimbi Bimoseno yang telah berkenan mengirimkan buku ini kepada saya. Abg labil alias ababil seperti saya sangat membutuhkan pencerahan dan bimbingan yang ada di dalam buku ini. Saya senang. Saya bahagia. Saya merasa beruntung. Terima kasih telah menjadi bagian dari keberuntungan yang saya rasakan.

Selamat malam, mari membaca.

………………………………………………………………………………………………………………………………….

.

BERCERMIN DENGAN HATI: KARMA CEPAT DATANGNYA!

Oleh: Katedra Rajawen

13 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/new-media/2012/07/13/bercermin-dengan-hati-karma-cepat-datangnya-

.

1342142375497520283

jepretsendiri.com

Seorang kompasianer, Herry F pernah berkata pada saya,”Di Kompasiana kalau mencari tulisan filsafat atau renungan yang paling saya cari adalah tulisan Bu Arimbi dan Pak Kate!”

Tetapi setelah membaca karya Bu Arimbi. Saya merasa sungguh tidak layak membandingkan tulisan saya dengan tulisan beliau.

Karena Bu Arimbi layak disebut seorang penulis yang telah memiliki kematangan jiwa dan pemikiran yang luas. Sementara saya hanyalah penulis galau.

Jujur saya banyak belajar dari Bu Arimbi. Selain mengirimi buku karyanya. Beliau juga bersedia berdiskusi dan mengajari saya tentang proses menulis buku.

Bagaimana cara mengirim ke penerbit. Memotivasi saya untuk mengikuti jejaknya. Terima kasih.

Membaca karya Bu Arimbi Bimoseno “Karma Cepat Datangnya” sungguh akan banyak pembelajaran dan refleksi kehidupan yang dapat kita petik.

Dengan hati bercermin dari segala peristiwa dalam kehidupan ini penuh rasa cinta atas kehidupan itu sendiri.

Karena apa pun tindakan dalam hidup kita pasti ada balasannya. Bahkan bisa begitu cepat datangnya. Itulah karma. Siapa pun tidak dapat menghindarinya. Kebaikan berbalas kebaikan. Kejahatan berbalas kejahatan. Percaya tidak percaya. Inilah hukum kebenarannya.

Itulah inti dari buku “Karma Cepat Datangnya” karya seorang kompasianer, Arimbi Bimoseno.

Sebuah karya terbaik karena ditulis dari kedalaman samudra hati dan luasnya cakrawala pemikiran. Dari kelembutan seorang wanita yang sedang ingin berbagi.

Siapapun kita yang sedang dalam perjalanan mencari kearifan hidup. Buku “Karma Cepat Datangnya” sungguh merupakan sebuah hadiah terindah.

Ketika beliau mengabarkan akan menerbitkan buku. Saya bertanya tentang judul bukunya.

Saat beliau memberitahukan judulnya “Karma Cepat Datangnya”. Terus terang saya sedikit terkejut. Kok beraroma Buddhis?

Ya ingat karma kita akan segera ingat dengan ajaran Buddha Sidharta tentang hukum sebab akibat.

Bahwa segala perbuatan (sebab) yang kita lakukan pasti ada balasannya (akibat). Tidak ada satu pun yang dapat lolos. Semua adil adanya.

Waktunya bisa langsung dalam kehidupan saat ini. Kehidupan yang akan datang atau beberapa kehidupan kemudian.

Namun pada jaman sekarang. Karma itu begitu cepat datangnya. Perbuatan yang kita lakukan tidak perlu menunggu lama untuk kita terima hasilnya.

Bercermin dari karya Bu Arimbi ini. Diharapkan membuat kita yang membaca semakin yakin dan termotivasi untuk hidup dalam kebajikan. Karena pada akhirnya kebajikanlah yang akan diterima.

Sebaliknya bila masih terlena dalam kesalahan. Jangan salahkan siapa-siapa. Apalagi menuduh Tuhan tidak adil. Bila semua kesalahan itu akan menghukum dan membuat hidup kita menderita di kemudian hari. Menyesal pun mungkin sudah terlambat.

Jadi??? Gunakan akal sehat untuk memilih!

Catatan: Buku “Karma Cepat Datangnya” setebal 204 halaman ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan sudah tersedia di Toko Buku Gramedia. Soal harga, langsung saja ke TKP.

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

BUKAN, RESENSI BUKU? KARMA CEPAT DATANGNYA

Oleh: Singgih Swasono

11 Juli 2012

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/07/11/bukan-resensi-buku-karma-cepat-datangnya-470597.html

.

CINTA. “Pada akhirnya kita kembali ke pusat alam semesta” Ia ‘lukis’ di Catatan Penulis. Ia memasukan Cinta di bagian keempat, mengantarkan kita untuk mendapatkan cinta yang tidak mengenal rasa sakit, dan Ia ‘lukis’ dengan berbagai ‘model’ kehidupan yang ada disekeliling kita untuk mendapatkannya. “Menjadi pribadi berlimpah cinta yang mampu mengubah air mata menjadi mata air kehidupan”, di halaman 179 – 200. Salah satu contoh, di halaman 200. Judul “Tiga Kunci Penyelamat Hidup”. Di bawahnya “Kebenaranmu adalah sejauh pengertianmu mengenai kebenaran itu. Maka teruslah belajar, terus membaca, terus memeriksa pengertian” dan setelah itu Ia ‘lukis’ itu dengan bernas. Di bagian keempat, Ia akhiri dengan CINTA. Apa ini berakhir? Tidak…

Bagiku membaca buku ini, bagai melihat ‘lukisan’ hidup kehidupan alam semesta di sekeliling diriku sendiri, yang sudah terlewat maupun belum aku torehkan dalam kanvas hidup kehidupan di alam semesta. Ia mengajak untuk melihat ‘lukisan’ hidup kehidupan secara utuh, bahwa “Perhitungan atas segala perilaku baik-buruk terjadi saat ini juga, bukan setelah mati”. Dan satu pesan “Jangan abaikan hal kecil, sebab hal besar berasal dari hal kecil” dan disampul belakang ia ‘lukis’ “Ada yang menyebutnya karma. Perilaku baik menghasilkan karma baik. perilaku buruk menghasilkan karma buruk…dan seterusnya” semua itu Ia ‘lukis’ dengan indah di…..

1341978665523014283

Judul Buku     : KARMA Cepat Datangnya.

Penulis             : Arimbi Bimoseno

Cetakan        : Pertama, tahun 2012

Penerbit      : PT. Elex Media Komputindo

Jumlah hal  : 203 halaman.

Tentu saja, mataku terpana melihat sampul buku itu, berjudul: Karma – Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri – Cepat Datangnya. Mata lapar melihat keindahan’lukisan’, langsung berenang dan menyelami dibagian pertama. Lukisan kata demi lukisan kata aku renangi, aku selami, berasa benar bagai air es meresap dalam relung mata batinku. Demikian pula ketika menginjak bagian kedua, ketiga dan keempat.

Aku mendapatkan buku ini ketika aku membuka FB, tanggal 30 Juni 2012, tanda merah angka satu terpapang di inbox Fb. Dalam batinku ‘ada pesan masuk’ setelah aku buka, ada seseorang memohon alamat tinggalku dengan maksud Ia akan mengirim sebuah buku. Tentu saja, tanpa tanya buku macam apa gerangan? aku kirim alamat tinggalku lengkap. Saat itu hanya rasa syukur dan terimakasih pada Sang Illahi, tiada angan, tiada mimpi, ada yang berkenan mengirim aku sebuah buku. Alhamdulillah, penantian akhirnya tiba tanggal 8 Juli 2012 paket buku saya terima dengan baik.

Di bagian pertama Ia ‘lukis’ tentang Hati, Ia mengajak pembaca untuk menelusuri ‘lukisan’ relung-relung kedalaman hati. “Hati adalah cermin kualitas kemanusiaan seseorang” tulisnya, dan hal tersebut ia ‘lukis’ dengan indah dalam halaman 1 s.d 47. “Kebaikan dan keburukan terpadu” Ia ‘lukis’ dengan berbagai ‘gambar’ kehidupan kita sehari-hari, “Disadari atau tidak disadari, hukum alam berlaku bagi semua manusia” tulisnya.

Bagian kedua, Ia ‘lukis’ tentang Cermin. Ia ‘melukiskan’ “Peristiwa sekecil apa pun atau sebesar apa pun adalah guru, adalah cermin”. Ia mengajak meresapi cermin diri kehidupan disekeliling kita “Siapa yang rajin mengamati maka dialah murid terbaik kehidupan” dan tentang itu semua ia ‘lukis’ di halaman 49 s.d 111 disini kita diajak mengamati berbagai ‘gambar’ “Dengan menjadi pengamat kehidupan seseorang bisa melatih kearifannya” tulisnya.

Bagian ketiga: Peristiwa, masih terkait dengan bagian kedua. Disini lagi-lagi Ia ‘lukis’ dan mengajak kita merengungi ‘gambar’ dengan berbagai ‘model’ kehidupan yang ada di sekeliling kita di halaman 113-176. Didalamnya kita di ajak menyelami tentang “Peristiwa-peristiwa kecil yang kita alami, yang dialami orang di sekitar kita, untuk menghaluskan budi pekerti, untuk menumbuhkan pengertian dalam hati”.

Selebihnya, buku ini Ia ‘lukis’ dengan teks-teks yang indah, mudah dipahami, mengalir, dan ada kandungan persuasi di dalamnya. Dalam penutup Ia mengajak kita semua untuk membuat buku semacam ini, berupa catatan harian tentang apa yang dilihat dan dirasa lalu dipelajari. Oleh karena itu, sebagai pembaca, kita tak perlu mengerutkan kening ketika menikmati halaman demi halamannya berisi ‘lukisan’ berbagai bentuk/macam hidup kehidupan alam semesta di sekeliling kita “Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri”. Penasaran dengan ‘Pelukis’ buku ini, sila klik disini.

Salam

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA CEPAT DATANGNYA

SEBUAH PENCERAHAN DALAM PENCARIAN

Oleh: Choirul Huda

10 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/10/karma-cepat-datangnya-sebuah-pencerahan-dalam-pencarian-476740.html

.

1341905025281204906

Cover buku Karma… (dok. pribadi)

“Sesuatu tampaknya berasa pahit,
tapi ternyata itu tak menyehatkan, menyelamatkan.
Semakin cepat memahami ini,
seseorang tak perlu merasakan penderitaan panjang dalam hatinya.”

*     *     *

Mengapa Doaku Tak Terjawab?

Aku sudah bekerja keras, aku sudah bekerja giat, aku sudah bekerja tekun, aku sudah berdoa siang-malam, mengapa rezekiku segini-segini saja. Aku mau uang banyak, mengapa Tuhan tak berikan. Tuhan tidak adil. Tuhan pilih kasih. Tuhan kejam…

Jawaban tanpa suara:

Kamu mau uang banya, untuk apa?
Aku belum memberimu uang banyak, karena kamu akan sombong dengan uang banyak itu.
Aku belum memberimu uang banyak, karena kamu akan merendahkan manusia lain, karena kamu akan membeli harga diri orang lain, dan kamu akan sombong dan lupa diri dengan uang yang banyak itu…

Untuk apa kamu punya uang banyak, kalau kamu tidak ingat fakir miskin dan anak yatim?
Untuk apa kamu punya uang banyak, kalau kamu tidak ingat Ibu-Bapakmu?
Untuk apa kamu punya uang banyak, kalau itu justru menjauhkanmu dari Tuhan-mu?

Pantaskan dulu dirimu untuk memiliki uang banyak itu, hingga kamu benar benar siap untuk menerima anugerah berupa rezeki yang cukup untuk dirimu, keluarga maupun orang-orang disekitarmu.

“Setiap doa pasti dijawab, jawabannya tidak selalu sama persis dengan yang kita minta. Jawabannya pasti demi kebaikan kita. Segalanya jelas bagi yang sudah mengerti…”

(Hal 88, bab II – Cermin)

*     *     *

JAKARTA – Membaca buku Karma, Cepat Datangnya, karya Ibu Arimbi Bimoseno, Kompasianer yang biasa menulis fiksi dan juga rubrik kejiwaan ini, sungguh terasa berat. Bukan karena tebalnya buku yang berjumlah 204 halaman, ataupun genre dari buku yang saya dapat hari Sabtu (7/7) ini bertemakan motivasi. Tetapi, karena intisari dalam buku perdana dari sosok Ibu rumah tangga yang mempunyai motto “bukan siapa-siapa” inilah yang sangat luas untuk dicerna sekaligus tidak mudah dipahami hanya dengan sekali-dua kali baca.

Buku Karma, sangat kompleks dalam menuturkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, baik dari sisi filosofi maupun mengenai tatanan sebab-akibat dari suatu makhluk hidup. Seperti penuturannya sendiri saat kami berkomunikasi beberapa waktu yang lalu, Ibu Arimbi mengatakan bahwa buku perdananya tersebut hanyalah tulisan-tulisan pendek saja.

“Buku pertama sih mas, semacam buku pengembangan diri gitu, ada kisah-kisah juga, tulisan pendek yang bisa dibaca secara bebas dari mana saja” ujarnya melanjutkan. “Atau bisa disebut sebagai buku kejiwaan, untuk hiburan yang menenangkan diri.”

“Karma…” terbagi dengan empat bab yang terdiri dari 76 tulisan. Banyak kisah inspiratif dan renungan yang dapat digali dari buku terbitan Elexmedia Computindo tersebut. Seperti dalam kisah Karma, Cepat Datangnya, di halaman 114, bab ketiga – peristiwa.

Bercerita mengenai seorang gadis yang diam-diam mengendari sepeda motor keluarganya tanpa seizin sang Kakek yang kerap melarang, akhirnya mendapatkan sebuah karma. Ketika tidak sampai berapa lama setelah menjalankan motor, nasib naas menimpanya. Dari arah berlawanan datang sepeda motor yang berlari sangat kencang, hingga keduanya bertabrakan…

Dalam pemikiran sang gadis, tentu ia tidak menyangka akan mendapat karma secepat itu. Sebagaiman lazimnya, kita, yang termasuk dewasa, tentu hanya mengetahui bahwa karma adalah sebuah hukum alam, sebab-akibat hasil perbuatan dahulu. Padahal sejatinya, yang namanya hukum alam, tentu tidak mengenal waktu, ruang dan dimensi apapun.

Andai saja sang gadis itu mengikuti nasehat sang Kakek, bahwa belum waktunya untuk anak seusia dia untuk mengendarai sepeda motor, tentu ia akan selamat. Namun, ia sama sekali tidak menghraukan perkataan sang Kakek yang hanya didengar dengan teling, bukan dengan hati!

Akibatnya, sang Kakek hanya dapat meratapi akhir tragis dari kelakuan nekat sang gadis, yang terkena karma. Saat gadis itu tersenyum, orang lain balas tersenyum secepat karma terjadi. Begitu juga ketika ia terlihat cemberut atau sedang memaki. Maka secepat itu juga karma terjadi, tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu.

*     *     *

Selain dua tulisan tersebut, masih banyak lagi kisah-kisah renungan yang dapat dipahami dengan seksama tanpa perlu harus dihafalkan dari sebuah buku, berjudul Karma: Cepat Datangnya. Termasuk dalam menemukan jawaban dari lentera hati kita, yang membacanya, tentang hidup selaras dengan hukum alam tanpa perlu melenceng dari jalurnya.

Usai membaca buku ini, saya jadi mengetahui bahwa karma, tidak mungkin dapat dihindari. Namun, karma justru harus dihadapi, agar apa yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa depan, akan selaras dengan apa yang dilakukan.

13419051361906690864

KARMA, Cepat Datangnya: Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri

*     *     *

Judul : Karma, Cepat Datangnya
Penulis : Arimbi Bimoseno
Penerbit : Elex Media Computindo
Tahun Terbit : Juni 2012
Jumlah Halaman : 204
Genre: Motivasi dan Inspirasi
ISBN : 978-602-00-2822-4

*     *     *

- Jakarta, 10 Juli 2012

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA CEPAT DATANGNYA

BERHATI-HATILAH DALAM BERTINDAK!

Oleh: Neny Silvana

10 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/10/karma-cepat-datangnya-berhati-hatilah-dalam-bertindak-470074.html

.

13419709331229029770

Pengakuan karma,

“Masa mudaku dulu bandel banget. Semasa kuliah, aku pacaran dengan kakak kelasku. Melakukan seks bebas, hamil, dan aborsi,” cerita  Nania pada Tira. Tira mendengarkan.

“Itu berlangsung dua tahun hingga aku mengalami tabrakan. Aku pingsan, lalu koma selama sepuluh hari.Kemudian aku sadar, tapi keadaanku seperti orang gila.” lanjut Nina.

“Entahlah,  kalau Tuhan tidak menghentikan aku dengan pristiwa tabrakan itu, mungkin aku masih bergelimang dosa hingga sekarang.” kata Nania lagi.

13419361261788476732Di tengah  jeda obrolan, Tira mengambil sebuah tabloit wanita yang tergeletak di  bawah meja. Ia bolak balik dan pandangannya tertuju pada sebuah artikel mengenai karma, hukum  sebab akibat. Ia membaca,  seorang konsultan spritual mengatakan,

“Sekarang ini karma terjadi lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

“Iya,itu memang betul. Aku merasakannya sendiri,” kata Nania.

Berikutnya Nania membuat pengakuan karma lagi, yang membuat Tira cukup tercengang.

Nania seorang direktur sebuah perusahaan di jakarta ini rupanya mencalonkan diri  sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah. Banyak syarat yang harus ia penuhi, termasuk jumlah minimal yang  pendukungnya. Nania meminta bantuan pada adik, sepupu, dan saudaranya untuk mengumpulkan dukungan di kampung halamannya.

Mendekati batas akhir pendaftaran, ada kurang lebih 500 lembar formulir dukungan disertai fotocopy KTP belum ditandatangani  si pendukung. Dengan alasan waktu mepet, Nania meminta adik-adiknya untuk memalsukan tandatangan tersebut. Seminggu kemudian, urusan kelengkapan surat sudah beres semua. Surat-surat penting Nania masukkan ke dalam kopor. Di bandara sokarno hatta, ia siap terbang ke kampung halamannya. Dengan percaya diri dan gairah besar, ia akan mengkampayekan dirinya.

Sampai di bandara tujuan, Nania melangkah energik menuju tempat pengabilan  bagasi.Ia meraih kopornya, menyewa mobil, dan  menuju tempat penginapan.

Sampai di kamar hotel, Nania membuka kopornya. Alangkah terkejutnya ia mendapati isinya yang  ternyata bukan barang-barang miliknya. Kopornya tertukar dengan orang lain!

Ternyata, karma itu cepat datangnya!  Nania tidak dapat mendaftar calon seleksi angota DPD karena memalsuan tanda tangan pendukungnya.

( Bab 3 : peristiwa  hal 154)

******

“Ada yang menyebutnya karma. Prilaku baik menghasilkan karma baik. Prilaku buruk menghasilkan karma buruk. Ada yang menyebutnya sebab akibat logika alam. Sebab berlaku baik menghasilkan akibat baik. Sebab berlaku buruk menghasilkan akibat buruk. Ada yang bilang kebaikan dan kejahatan yang kamu lakukan hanya untuk dirimu sendiri.  Semua masuk akal dan sederhana. Hidup itu sederhana. Hidup selaras dengan hukum alam itu sederhana dan memudahkan

Pertama kali melihat share di facebook promosi buku karma, aku sudah  jatuh cinta. Bukan saja karena judulnya yang menggugah rasa panasaran, terkesan misterius tapi juga karena covernya yang sangat menarik. Terkesan cool, elegan, dan simple. Membuatku ingin cepat membeli dan membacanya.

Buku karangan mbak Arimbi Bimosone tersebut, secara reflek kuklik like dan memberi comment dukungan turut senang. Secara bercanda kukatakan,

“Selamat ya mbak atas terbit bukunya. Mauuu dong aku dikasih bukunya.”

Ahaaaa, dasar aja nasib baik  menghampiriku, tak lama kemudian nongol pemberitahuan di kotak messageku.

“Boleh mbak, bisa kirim alamat rumah mbak Neny?”

Waduhhhh, serasa melayang saat itu. Lalu dengan senang hati segera kuberi identitas diriku secara lengkap.  Nama, alamat, juga nomer hpnya. Senangnya, sudah dapet langsung dari penulisnya, gratis pula. Mumpung mbak Arimbi masih bisa menyapaku, karena kudengar dari beberapa teman bukunya laris manis di Gramedia. Wah, mbak Arimbi bakalan menjadi penulis terkenal. Selamat ya, Mbak. *sambil berhayal, kapan ya buku soloku mejeng di Gramedia ..

Karma. Satu kalimat yang penuh makna. Bukan saja artinya yang sedikit ‘menyeramkan’ tapi juga ada satu kenangan yang tak terlupakan dari setiap mendengar kata tersebut. Kata yang selalu diucapkan ayahku ketika memberi nasehat buatku.

Kata ayahku, hidup itu seperti  karma atau sebuah pohon. Apa yang kita tanam, itu yang kita petik. Buah yang dihasilkan, tidak akan berbeda dengan pohon yang kita tanam. Bila menanam pohon duren, maka akan berbuah duren.Tidak mungkin berbuah rambutan.

Dalam realisasi sehari-sehari, apa yang kita tebar atau yang kita tanam itulah yang akan kita petik. Jika kita menanamkan kebaikan, maka kita akan dikelilingi banyak kebaikan dan orang-orang yang juga baik sama kita. Jika kita berbuat jahat kepada orang lain, maka kita juga akan dikelilingi  banyak peristiwa kejahatan dan orang orang yang jahat dengan kita.  Menanam kebaikan akan berbalik kebaikan, jika menanam kejahatan akan berbalik kejahatan.

Prilaku dan  kepribadian orang-orang disekeliling kita adalah cerminan diri kita sendiri. Kita yang membuat,  kita yang mengubah, dan aura yang dihasilkannya adalah dari tindakan diri kita sendiri. Dan entah kenapa, sampai sekarang aku masih meyakini apa yang dikatakan oleh ayahku.

Huwaaa… jadi inget almarhum ayahku.

“Jadilah orang baik, Nen. Di manapun kamu berada, jaga diri dan hatimu. Dengan menjadi orang baik, kamu akan selamat, kesulitan menjauh darimu.  Kamu  disayangi orang-orang sekelilingmu  dan kamu juga disayang Allah”

****

Sejujurnya, ketika membaca buku karma ini, aku banyak tenggelam dalam kenangan masa laluku. Seperti bercermin dan kembali diajak berpetualang. Mengkoreksi diri, juga membuka wawasan dan mengubah pola pikirku. Sungguh buku ini benar-benar menarik buatku, karena banyak terdapat kesamaan di dalam kisah dengan penulisnya. Hal-hal yang menurutku tadinya sepele dan tak terpikir olehku, menjadi luar biasa.

Buku ini terdiri dari 4 bagian.

Bagian 1 :   berjudul hati

Pada buku ini bahasan tentang hati diletakkan pada bab pertama dengan tujuan agar kita memeriksa diri sendiri, sebelum memeriksa orang lain, menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain.

Bagian 2 : berjudul cermin

Pada bab ini berisikan bagaimana kita memandang oranglain dan segala sesuatu yang terjadi pada orang lain. Dengan membaca orang lain, kita jadi bercermin. Sehingga kita tau posisi kita di mana dan bagaimana kita harus besikap.

Bagian 3 :  berjudul peristiwa

Pada bab ini mbak Arimbi mencatat peristiwa-peristiwa, mbak Arimbi berbicara dengan orang-orang, dan mencoba mengajak pembaca memahami keterkaitan-keterkaitan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Sebab mbak Arimbi percaya, tak ada faktor tunggal atas segala kejadian. Selalu ada sebab akibat dan timbal baliknya.

Bagian 4 :  berjudul cinta

Bab ini beriasikan tentang penghormatan, penghargaan dalam bentuk hubungan, betapa kehidupan penuh cinta. sebagimana lazimnya hukum kausalitas juga akan menarik cinta.

Secara keseluruhan buku ini bercerita tentang pikiran dan bagimana kita mengunakan pikiran kita secara tepat dalam menghadapi situasi- situasi lahir batin yang kita hadapi sehari hari. Ada ungkapan-ungakapan pemaknaan, ada contoh kasus, semuanya dibuat simple agar mudah dipahami oleh pembacanya.

Hari-hari terus berjalan, waktu terus berputar. Peristiwa demi peristiwa terjadi. Peristiwa kecil ataupun besar. Kesalahan-kesalahan kecil, kesalahan-kesalahan besar, penyesalan-penyesalan kecil, penyesalan-penyesalan besar. Hal-hal kecil kadang  terabaikan, setelah sesuatu yang buruk menjadi besar terasa demikian mengejutkan. Adakah waktu untuk memeriksa yang kecil-kecil sehingga sesuatu yang buruk tidak perlu menjadi besar. Sebaliknya hal-hal kecil yang baik bisa dipupuk terus dengan kesadaran sehingga diri tumbuh menjadi pribadi yang besar.

Orang satu sama lain bercermin. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di sekitar kita adalah cermin. Semua catatan dan cerita yang terangkai dalam buku ini adalah cermin yang bertebaran di mana-mana untuk diambil pelajarannya.

Catatan dan cerita dalam buku ini menunjukan bahwa karma cepat datangnya. Karma itu bisa berupa keuntungan atau kerugian, bergantung pada apakah yang ditaman adalah kebaikan atau keburukan.

Buku ini membawa pembacanya untuk lebih teliti memeriksa hidupnya, dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam,dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dan seterusnya. Mengajak pembaca untuk melihat kehidupan secara utuh,bahwa perhitungan atas segala prilaku baik-buruk terjadi saat ini juga, bukan setelah mati.

Bila surga adalah damai, tidak mungkin hati seseorang akan damai ketika melakukan hal kecil atau hal besar yang bertentangan dengan nurani. Bila ada orang yang melawan nurani dan berkata damai, sesungguhnya itu perkataan palsu. Tak ada dusta dalam hati. Hati tak bisa menipu diri sendiri. Hati itu disinari cahaya sehingga yang salah tampak salah yang benar tampak benar. Jangan abaikan hal kecil sebab hal besar berasal dari hal kecil.

Judul : Karma Cepat Datangnya

Penulis : Arimbi Bimoseno

Penerbit : Elex Media Computindo

Tahun terbit : Juni 2012

Jumlah halaman : 204

Genre : Motivasi dan Inspirasi

ISBN : 978-602-00-28224

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

………………….

KOMPASIANA, PAK POS, ARIMBI BIMOSENO:
TUHAN MAHA BAIK!
.

Oleh: Budi Hartono

9 Juli 2012

http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2012/07/09/kompasiana-pak-pos-arimbi-bimoseno-tuhan-maha-baik-470135.html

.

Pos..pos!”

suara datang dari halaman depan rumah.

“Wuih, pada siapa nih Pak Pos akan membagikan rejeki,” bisikku dalam hati. Kerinduan akan suara Pak Pos menjelma jadi berbagai kilatan peristiwa lampau seperti menonton film yang lakonnya   tentang figur  Santa Klaus yang membagikan entah boneka, permen ataupun jajanan. Dan benar saja, Pak Pos adalah sahabat yang baik bagi anak, remaja yang menunggu balasan surat rindu dari kekasih maupun seorang penganggur yang menunggu surat panggilan kerja.

“Pos..pos!”

“Iya Pak, sebentar!” sahutku buru-buru sembari membuka pintu.

Hmm..wajah pengantar itu belumlah tua, berkisar usia limapuluh tahunan.

“Anu Mas, ini benar rumahnya Budi?”

“Inggih Pak, saya sendiri..wonten punapa, nggih?” tanyaku deg-degan.

“ini ada kiriman untuk sampeyan, kelihatannya berupa buku, dan tolong tanda-tangani di sebelah sini!” tukas Pak Pos.

Kuambil paket kiriman itu, sambil kutanda-tangani buku laporan miliknya. Pagi menjelang siang, hati membentuk bayang-bayang pertanyaan.

“Siapa Bud?” merdu suara ibuku terdengar dari dalam kamar

“E, Pak Pos..Buk, ini mengantar paket kiriman!” jawabku, “terima kasih Pak,”ucapku beralih pandang pada Santa Klaus nyata ini.

“Ya, sama-sama Mas, saya langsung mohon diri, ini mengantarkan surat di Desa Sebelah,” Katanya

“O, inggih Pak, monggo! Jawabku.

Terdengar suara raungan gas dari motornya, dan kelebat bentuknya menghilang ditelan tikung jalan sebelah rumah.

Kertas sampul putih, bertuliskan alamat rumahku. “Dari siapa ini, ya?” bisik hatiku. Secepat serdadu Jepang menyerang Pearl Habour, segera kubuka sampul itu. Eng..ing…eng, heits…sebuah buku bersampul putih,  dengan judul “Karma (Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri) Cepat Datangnya” karangan dari Arimbi Bimoseno.

“Kiriman saka sapa, bud?” suara Ibu mendekat tidaklah sejauh jarak Anyer-Panarukan

(heleh, apa hubungane iki, he he)

“Menika, buku kiriman saking Mbak Arimbi, Buk, rencang saking Kompasiana” jawabku

“Arimbi  Bimosena? lho bukankah Arimbi adalah sebuah nama dan kisah pewayangan tentang ketulusan? Ya.. Ketulusan terhadap sesuatu yang dipercayai, ketulusan pada sesuatu yang dicintainya, dan Arimbi sendiri adalah wujud dari ketulusan itu, Le! Ia adalah seorang raseksi yang sangat mencintai Bima, lalu lewat doa Kunti Ibu dari Bima, Arimbi menjelma menjadi menjadi wajah yang cantik secantik hatinya, dan lewat rahimnya, Sang Jabang Tetuka –Gatutkaca- Lahir, Le!” cerita Ibuku. (Hehehe, ibuku memang hobi untuk bercerita, setiap hal apapun akan dihubungkannya dengan bermacam peristiwa yang diketahuinya)

Lan tanaalul birra hatta tunfiquu mimmaa tuhibbun..

Bahwa..Engkau tidak akan pernah mencapai kebahagian (yang sempurna) hingga engkau mampu mengorbankan hal yang terbaik dari yang engkau miliki, dan temanmu itu sedang menjalankan ayat tersebut,  Ya,  Ia memiliki ketulusan persahabatan, dan semoga Tuhan senantiasa memberikan kebaikan kepadanya, Bud!” Ibu melanjutkan petuahnya

“Nggih, Buk,” jawabku lirih..

Kompasiana, Pak Pos, Arimbi Bimoseno:  Terima kasih!

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KARMA… CEPAT DATANGNYA

Oleh: Erri Subakti

9 Juli 2012

http://media.kompasiana.com/buku/2012/07/09/karma-cepat-datangnya/

.

13417959051092891931

Kompasiadul (Adul) : “Pret, lu kenal Arimbi Bimoseno gak?”

Kompasiapret (Apret) : “Heh? siapa tuh?”

Adul : “Lu gimana sih.. lu kan kompasianer, nah Arimbi Bimoseno itu sering nulis di kompasiana…”

Apret : “Emang kalo gue kompasianer, gue harus tau semua orang yang ngompasiana?”

Adul : “alah.. lu taunye ape sih..? Lu jarang baca-baca tulisan bertema filsafat sih.. bacanye gosip mulu…”

Apret : “Terserah gue dul..! gue sukanye berita-berita hiburan mau ape lo… Emang kenape dengan Arimbi Bimoseno ntuh..?”

Adul : “Die udah rilis buku hasil karyanye yang berjudul “Karma, Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri, Cepat Datangnya,” diterbitin sama Media Elex Komputindo, grupnye Kompas Gramedia… keren ya.. bisa tembus di Palmerah Selatan…”

Apret : “Trus.. kayak pegimane sih isi buku Arimbi Bimoseno ntuh..?”

Adul : “Bukunya ‘menyejukkan’ untuk hati manusia yang selalu bertanya2.. akan kemana semua cerita hidup ini berlanjut.. Apalagi buat gue nyang kadang masih banyak ‘tanya’ tentang kehidupan ini.. pas banget menjelang bulan puasa.. buat kontemplasi diri…”

Apret : “Lu udah baca Dul bukunya..?”

Adul : “Belom…” *tampang polos…

Apret : “woooo… kampreettt..!!!” *lempar bungkus nasi uduk ke Adul…

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

CEK SALDO KARMA ANDA DI BANK KARMA

Oleh: Adam Henz

11 Juli 2012

http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/11/cek-saldo-karma-anda-di-bank-karma-477010.html

.

Melihat gambar bukunya Bu Arimbi Bimoseno yang berjudul “Karma… Cepat Datangnya” membuat saya terinspirasi untuk membahas sedikit mengenai karma atau kamma (bahasa Pali) dan sedikit berimajinasi mengenai hubungan karma dengan bank. Dan karena kebetulan saya adalah seorang Buddhist, bolehlah kiranya sedikit berbagi mengenai apa itu karma. Ijin ya pembaca sekalian hehehe…

Kamma(bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sansekerta) artinya perbuatan. Kamma atau Karma adalah suatu perbuatan yang dapat membuahkan hasil, dimana perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan dan sebaliknya perbuatan jahat juga akan menghasilkan penderitaan atau kesedihan bagi pembuatnya. Dalam Sabda Sang Buddha, Karma disebabkan karena adanya kehendak untuk berbuat. Mempunyai sebuah kehendak untuk berbuat adalah sudah sebuah karma. Dan untuk memudahkan orang akan pemahaman mengenai hukum karma, sang Buddha pun memberikan sabdanya dalam sebuah syair yang berbunyi: “Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya“.

Banyak orang berpandangan bahwa karma adalah sebagai sebuah pembalasan. Jadi pandangan yang beredar pada umumnya adalah sebuah pemahaman akan karma dalam artian negatif. Padahal makna dari karma tidaklah sesempit itu. Karma sendiri digolongkan menjadi beberapa bagian, yang paling umum adalah karma dilihat dari sifatnya. Berdasarkan sifatnya, karma dibagi menjadi dua bagian, yaitu kusala karma (perbuatan baik) dan akusala karma (perbuatan buruk). Yang paling mudah dipahami dan dicerna adalah karma baik dan karma buruk. Untuk mengetahui banyaknya pembagian karma ini dapat anda cari melalui toko-toko buku ataupun secara online melalui browsing tentang karma. Ini tentunya bagi anda-anda yang tertarik untuk mengetahui dan memahami lebih banyak. Singkatnya karma tidak dapat diartikan secara sempit karena memiliki banyak jenis dan golongannya. Yang paling mudah adalah karma baik dan karma buruk. Karma baik bisa diidentikan dengan “pahala” sedangkan karma buruk bisa diidentikan dengan “dosa”. Pengidentikan ini bukanlah untuk mempersamakan, melainkan untuk memahami secara lebih mudah, jadi tidak ada tujuan penulis untuk mempersamakan arti kata dengan ajaran yang lain.

Yang paling menarik akan karma adalah seperti terinspirasinya saya dengan bukunya Bu Arimbi Bimoseno dengan kata “cepat datangnya”. Sulit sekali mendeteksi kapan karma itu akan berbuah. Karena karma tidak terikat oleh waktu, ruang, dan tempat. Karma menembus itu semua. Berbeda halnya dengan bank. Inilah ketertarikan yang akan sedikit penulis bahas yaitu seandainya ada “bank Karma”. Hehehe ya bank saudara-saudara. Apa fungsinya bank? Pasti banyak orang mengetahui bahwa bank adalah tempat menabung. Fungsi bank yang lainnya adalah yang sering kita lakukan yaitu mengecek saldo. Ya… Mengecek Saldo. Dengan mengecek saldo kita bisa tahu adanya mutasi (tambah-kurang) jumlah tabungan kita. Namun sebagai hukum kebenaran yang tidak terikat oleh waktu, ruang dan tempat maka akan sangat sulit untuk mengetahui saldo Karma kita kecuali ada yang namanya Bank Karma. Apakah bank karma ini dapat diciptakan? Saya yakin bisa… loh kok bisa??? Ya pasti bisa jika kita mau sedikit repot tentunya. Siapa bank karmanya? Mudah saja menjawabnya… yaitu diri kita sendiri. Bagaimana hal itu diwujudkan? Saya menjawab pasti dengan mengembangkan “kesadaran” yang tinggi. Bagaimana bentuknya??? Introspeksi dan Pengendalian diri dapat menjadi tolak ukur pendirian Bank Karma dalam diri kita. Walaupun tingkat keakuratannya tidak seakurat komputer di bank yang mencatat mutasi saldo tabungan hehehehe sebuah langkah yang baik sudah kita mulai. Pesan saya… jangan lelah untuk menabung kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

JEJAK PENGEMBARA #1

Oleh: Steve Bud

10 Oktober 2011

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/10/10/jejak-pengembara-1-402348.html

.

Jejak Pengembara #1

:: arimbi bimoseno

mula menyusuri mata penamu nan cahaya itu, nafas hujan mengguyur kantung-kantung kering berjelaga, dalam persuaan di liang sunyi–menyufi.

Aku pengembara, singgah dari satu sungai ke telagamu, meneguk tinta penamu yang zamzam

Tiba di padang fikir tandus –isyaratmu tentang– debudebu mendeburkan jarak pandang. Pada keleluasaan langit, cakrawala mata batin menelurkan monolog cinta baru, tentang memandang yang terhempas agar tereguk, yang terbadai memuing tersusun ulang.

Menjalar ke sukma,
dingin dalam kefanaan.

Pengembara –keras terjal bebatuan, makin cadas harihari– menyibak ke jalan mana gerangan rupa diri terbawa. Dengan cakra batinmu, menyusuri mayapada.

wk, 10102011

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KOMPASIANER BERBAHAYA 2011 (1)

Oleh: Herry FK

8 Oktober 2011

http://media.kompasiana.com/new-media/2011/10/08/kompasianer-berbahaya-2011-versi-admin-1-by-fk-401752.html

.

Artikel berikut ini menyajikan edisi satu kompasianer-kompasianer yang dianggap berbahaya sepanjang tahun 2011 menurut versi admin.

Siapa bilang admin tidak punya apresiasi terhadap kompasianer yang jumlahnya puluhan ribu baik akun terverifikasi, terkenthirisasi, terkloningisasi dan terkentutisasi, karena kenyataannya setelah hasil observasi dan anal-lisa yang telah melalui proses sterilisasi plus telah dicuci secara manual menggunakan sabun colek anti bakteri plus dilakukan penyaringan menggunakan jaring nyamuk, maka pada akhirnya tersisalah beberapa kompasianer yang dianggap berbahaya atawa dangerous member of kompasiana.

Sesungguhnya masih banyak dari member kompasiana yang berpotensi bahaya untuk menyodok kebijakan-kebijakan pemerintah, kebijakan-kebijakan admin, kritikus sistem yang kian rusak dinegara ini, dan lain sebagainya. Namun ulasan kali ini membatasi potensi bahaya dari konsistensi artikel pada pokok bahasan : Spiritualitas, Kritik kondisi politik, sistem sosial dari sisi penulis artikel maupun komentator dan juga kompasianer dengan kebiasaan buruk yang dapat membuat keseimbangan kompasiana kacau, serta kompasianer-kompasianer yang memiliki potensi massa dan kekuatan menggalang opini terkuat yang menjurus bahaya jika tidak dikendalikan oleh UU Anti Subversif, crotttttkidot inilah mereka :

#1.Pokok Bahasan Spiritualitas, ini PP crot-nya :

 Secara konsisten dari medio 2010 hingga hampir berakhirnya 2011, Erianto Anas, Zuragan Qripix, Adi Supriadi, Titi dan Arimbi Bimoseno dapat dikategorikan berbahaya dengan uraian alasan masing-masing sebagai berikut :

a).Erianto Anas, secara nyata tak terbantah merupakan sosok fenomenal yang mampu membuat gejolak panjang dengan sisi-sisi pemahaman yang ekstrem dalam menggali esensi spiritual, sehingga EA dirubrik Agama begitu banyak menimbulkan korban jiwa, terkhusus jiwanya sendiri yang harus bangkit dari kubur berkali-kali, yang pada akhirnya membuat admin mengambil keputusan mempeti-matikan rubrik agama untuk selamanya…. selamat jalan EA Setan sampai jumpa saat renkarnasi kembali di Kompasiana sebagai EA Malaikat hahahaha jika disetujui Admin.

b).Zuragan Qripix, kompasianer yang sangat konsisten terhadap postingan menyangkut fiqih dan agama islam, yang membedakan dari kompatriotnya Zuragan Qripix adalah salah satu kompasianer yang sangat gamblang ketika bicara benar atau salah tanpa tedeng aling-aling baik kepad teman atau pihak yang berseberangan, resistensi ZQ diimbangi dengan kapasitas pengetahuan jika “benar” dan keberanian mengakui kekeliruan jika memang diposisi keliru, kualitas ini sangat berbahaya menimbulkan perdebatan panjang dan alot disetiap pokok bahasan yang kontroversi terkhusus masalah agama.

c).Dipenghujung tahun 2011, fenomena Adi Supriadi menjadi sumber bahaya pertentangan pro dan kontra atas pendapatnya yang kerap kali bertangan besi dengan tindakan refresifnya seakan menggambarkan AS adalah seorang yang berhaluan KK = Keras Kepala atawa KB = Kepala Batu jika pendapatnya mendapat sanggahan yang berseberangan, maka AS tidak segan-segan untuk mengambil langkah “Hapus Komen” atau eksekusi dengan tangan sendiri sampai bersih, sehingga kategori kompasianer barbahaya layak disandangnya karena dia siap membunuh komen yang tidak diharapkannya di artikel-artikel sarat kontroversi miliknya.

d).Beberapa bulan terakhir FK dan Admin menemukan bahwa artikel spiritual yang membuka paradigma baru tentang pemahaman kedalam diri ternyata tidak mesti selalu se-ekstrem EA, se-garang ZQ atau se-kontroversi AS, karena dua orang wanita yakni mbak Titi dan mbak Arimbi menjawabnya dengan sajian pemahaman yang lebih lembut, namun selembut apapun yang mereka suguhkan dapat membahayakan kita yang membaca dan mencoba memahami artikel mereka tanpa kedalaman intuisi dan kesadaran membuka nalar serta hati melihat dari sisi yang lain, sungguh mereka dua wanita dipokok bahasan spiritual yang disamarkan. Sangat berbahaya bagi para kompasianer yang kolot dan hanya merasa benar akan keyakinannya sendiri, kalau tidak percaya silakan ikuti tulisan-tulisan mereka dan mulailah merasakan betapa berbahayanya bagi diri kita sendiri.

#2.Pokok Bahasan Kritikus Sistem Politik, Sosbud dan Ekonomi, ini PP crot-nya :

Tahun 2011, konsistensi Della Anna, Arrie Boediman La Ede, Bain Onthel Saptaman dan Ajinatha sebagai kritikus oposisi pemerintah politik, sosbud dan ekonomi sebagai salah satu cara  mengisi kedalam benak kita tentang kesadaran perubahan menuju pengelolaan negara yang lebih baik disajikan oleh mereka sesuai dengan karakter yang demikian menawan.

a).Della Anna, bagi yang mengikuti artikelnya yang bertajuk politik, sosial dan ekonomi, maka aroma kritik cerdas dengan dibarengi teori-teori serta formula-formula masukan positif, melalui contoh-contoh negatif pengelolaan negara yang buruk dilengkapi dengan gambaran kasus-kasus aktual yang terjadi dalam negeri dan regional yang mengiringinya, maka hanya satu kata yang dapat kita sematkan bahwa Nyi Della Anna Gendeng Pamungkas “CERDAS” seakan-akan khusus diciptakan sebagai kritikus di Kompasiana yang menyoroti point-point kejelekan pemerintah yang tidak dikuak dimedia lain yang lebih konservatif menyikapi kekeliruan langkah penyelesaian masalah yang diambil oleh pemerintahan saat ini. D.A layak disemati sebagai kompasianer yang berbahaya bagi mata-mata istana yang beredar di Kompasiana karena yang disampaikannya dapat menggiring opini kearah tusukan yang cerdas.

b).Siapa tak kenal Arrie Boediman La Ede, sangat tajam, sangat membakar setiap rangkaian katanya yang disusun dalam bentuk-bentuk puisi panjang yang menyayat pembaca sekaligus menusuk ke ulu hati penguasa karena tanpa ragu kalimat-kalimat ABLE yang dalam selalu menampar muka para koruptor dan antek-antek penguasa yang selalu merusak negeri yang dicintainya. ABLE dari sisi manapun layak diapresiasi sebagai salah seorang kompasianer berbahaya karena yang disampaikannya dalam bentuk aksara-aksara tajam pada akhirnya seakan membakar semangat revolusi para pujangga yang berharap akan perbaikan bangsa dimasa yang akan datang.

c).Hanya segelintir napas radikalisme satire yang dapat kita nikmati di Kompasiana, salah satunya dan tidak ada yang dapat menyamai karakternya yang bernapaskan Pemberontak secara kenthir radikal selain Penguasa Sepeda Onthel yang bertahta di Puncak Gunung Bain Saptaman. Keberanian, kelugasan dan napas-napas berontak dalam tiap artikel kritiknya yang disajikan dalam humor kenthir yang cerdas menunjukkan kualitas B.O.S sebagai salah satu kompasianer berbahaya bagi pengelolaan pemerintahan yang buruk oleh antek-antek bangsa ini dari semua sudut baik politik, ekonomi, sosial budaya dan keanehan-keanehan dinegara yang mulai aneh ini, disajikan oleh B.O.S dilengkapi gambar-gambar yang akan membuat decak kagum penikmatnya sekaligus menimbulkan kesadaran instant untuk memaki dan mencaci pula bersama napas-napas berontak yang ditularkannya.

d).Ajinatha, salah seorang penulis artikel yang hampir tiap hari menetaskan selentikan-selentikan yang mengarah pada kondisi politik berupa tusukan-tusukan layaknya panah-panah kecil pada para penguasa yang menjalankan roda pemerintahan dengan karakter kelugasan seorang yang berada diluar sistem. Berbahayanya Om Aji bukan dari tampilan wajah beliau yang teduh tapi dari semangat yang dipancarkan mata dan keras hatinya yang menginginkan perubahan bagi bangsa ini, dengan tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai politik dengan semangat cita-cita didirikannya bangsa ini, disajikan dengan kepala tegak tanpa merasa takut akan teror secara langsung oleh antek-antek penguasa yang senantiasa mengawasi media ini, dan sesungguhnya apabila ingin membuktikan seberbahaya apakah Om Aji maka silakan langsung bertatap muka dengan beliau.

Demikianlah kajian tentang kompasianer berbahaya edisi satu ini disuguhkan secara subyektifitas semata, karena FK dan Admin mengakui dengan banyaknya potensi kompasianer berbahaya di Kompasiana semoga nominator dalam bidang bahasan diatas memiliki kesamaan dengan persepsi anda. Salam dari Admin Kenthirleak’s dan salam Bibir Crotttt dari FK hahahahaha.

Link Edisi Keduanya dibawah nih Crotkidotnya :

Kompasianer Berbahaya 2011 versi Admin (2) by FK

Ilustrasi dari uncle google dan modifikasi

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

INI DIA 7 KOMPASIANER TERFAVORIT

Oleh: Katedra Rajawen

16 November 2011

http://hiburan.kompasiana.com/humor/2011/11/16/ini-dia-7-kompasianer-terfavorit-410692.html

.

Kompasiana telah meluncurkan kompasianer terfavorit versinya. Setelah saya pikir bolak-balik dan jungkir-balik. Saya juga tidak mau kalah mengeluarkan versi saya sendiri. Versi on the blepotan.

Kalau Admin Kompasiana untuk menentukan 10 nominal harus mengkerutkan dahi dan perdebatan di dalam ruangan. Saya santai-santai saja menentukan ke-7 nama kompasianer terfavorit ini.

Sebenarnya saya juga berpikir akan resikonya dan tudingan macam-macam atas penentuan ke-7 nama ini. Tapi tulisan ini sejujurnya tidak ada tujuan untuk menciptakan gap atau kasta di Kompasiana. Tidak juga ada maksud untuk mengadu domba sesama kompasianer.

Bukankah jelas-jelas para kompasianer tidak ada berjenis domba. Setahu saya yang bernama domba pun tidak ada.

Karena itu, khusus tulisan ini. Saya tidak akan menerima segala bentuk keberatan. Kalau nekat juga, segera laporkan ke RT setempat. Kalau hanya sekadar mengeluh,”Kok bukan saya, ya?” silakan saja deh.

Ini dia 7 Kompasianer Terfavorit 2011 versi on the blepotan.

1. AJINATHA

Untuk tulisan politik dan sekitarnya. Hanya nama di atas yang menyangkut di hati. Dulu ada satu nama, Doddy Poerbo. Tapi sekarang entah ke mana. Karena itu dengan terpaksa saya harus memilih beliau. Terlepas yang bersangkutan suka atau tidak suka.

Tulisannya tajam, setajam belati. Pedas sepedas cabai rawit. Sering menjadi terfavorit menghiasi ruang terekomendasi. Ini sudah cukup bagi saya untuk menobatkan Ajinatha sebagai terfavorit.

2. R82

Sejak kemunculannya yang pertama sudah menarik perhatian saya. Si Akang yang sedang merantau ke Mongondow, boleh dibilang spesial menulis fiksi.

Tak diragukan. Tulisan-tulisan saudara kita yang masih menjomblo dengan gaya rambut gimbalnya. Selalu menjadi bacaan favorit kompasianers. Terbukti, walau tidak masuk HL atau terekomendasi. Pengunjungnya pasti banyak dan ramai komentar.

Satu hal yang memaksa saya memasukan nama R28. Karena bulan Desember nanti akan mudik dan akan membawa oleh-oleh buat saya.

Terus terang ada satu nama penulis fiksi lagi yang ingin saya sertakan. Tapi saya tidak berani terang-terangan mengungkapkan. Biarlah menjadi terfavorit di hati saja.

3. ARIMBI BIMOSENO

Untuk kategori humaniora sebenarnya banyak nama yang layak. Dalam hal ini saya kebingungan memilihnya. Jadi memilih nama Arimbi ini dipastikan ada unsur kedekatan. Boleh dong.

Semua tulisan Ibu muda ini saya memastikan mengalir dari hati. Tanpa dipengaruhi segala kepentingan. Menulis dalam sunyi sebagai relaksasi.

Tulisan-tulisannya saya yakin selalu menjadi terfavorit bagi pembacanya.

4. HERMAN HASYIM

Untuk rubrik media, mau tak mau saya harus memasukan nama Herman Hasim. Walau mengaku penulis ecek-ecek. Tapi tulisannya selalu menggigit.

Setiap kata-katanya ibarat gigi ular berbisa yang bakal mengigit. Jadi kalau baca tulisan beliau jangan terlalu dekat.

5. KIMI RAIKKO

Si Uda bisa dikatakan adalah penguasa rubrik teknologi. Apapun yang ditulisnya pasti masuk HL. Tak heran penulis ini termasuk jajaran raja headlines.

Pada kesempatan ini saya pilih masuk terfavorit versi on the blepotan atas segala sumbangsihnya selama ini di Kompasiana.

Bagi kompasianers, Kimi Raikko tentu tidak asing lagi sebagai kompasianer. Karena seringkali meramaikan Kompasiana. Di kegiatan dunia maya dan dunia nyata.

6. BIDAN CARE

Untuk Rubrik kesehatan. Saya meyakinkan nama Bidan Care layak menjadi terfavorit. Bidan yang bernama Romana Tari ini. Cukup banyak menulis yang bermanfaat di Kompasiana.

Tulisannya termasuk ramai dikunjungi dan tentu saja dirindukan. Jadi saya kira sepantasnya saya memasuki namanya. Walau bisa mengejutkan. Bukankah kejutan itu yang bikin seru?

Siapa tahu juga dengan memilihnya menjadi terfavorit ada imbasnya. Yakni mendapat persalinan gratis darinya.

7. TRIHITO ERIBOWO

Ini nama terkahir sebagai kompasianer terfavorit versi on the blepotan. Sejujurnya ada dua nama yang layak di kategori olahraga. Selain Trihito ada satu saingan beratnya. Spesial penulis Motor GP, Mbak Yayat.

Namun saya lebih memilih Trihito, jelas karena saya lebih menyukai sepakbola yang menjadi spesial tulisan Trihito. Momen-momen sepakbola akan menjadi langganan untuk dibahas habis olehnya.

Untuk hadiahnya akan saya pikirkan belakangan. Tapi yang sedang saya pikirkan saat ini adalah idealnya Nama-nama yang terpilih itu mengirimi hadiah buat saya!

NB. Maaf, penulisan ke-7 nama ini tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Namanya juga kejutan………

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

AKU INGIN SEPERTI BU ARIMBI

Oleh: Herman San

20 November 2011

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/11/20/aku-ingin-seperti-bu-arimbi-414526.html

.

Aku ingin seperti bu Arimbi

Menata kata

Seperti bernyanyi

.

Aku ingin seperti bu Arimbi

Irama sarat makna

Membuaiku serasa bayi

.

Aku ingin seperti bu Arimbi

Menggali nilai-nilai kehidupan

Setiap hari

.

Aku ingin seperti bu Arimbi

Kontemplasi

Kaca diri

.

Aku ingin seperti bu Arimbi

Tapi aku kan laki-laki

Nanti disebut: pak Arimbi

Ah,

Nggak jadi

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

DI KOMPASIANIVAL, AKU BERTEMU ARIMBI BIMOSENO

Oleh: Oma Eni

14 Desember 2012

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/14/di-kompasianival-aku-bertemu-dengan-arimbi-bimoseno-515984.html

.

Jam  menunjukkan  jam  5  pagi  selesai  dandan  aku  buka  pintu,tiba2  hujan  turun  wadhuuuuh ……  jam 6.30  hujan  berhenti  Alhamdullillah  lalu  aku  dibonceng   menuju  kecamatan  yg  letaknya  lintas  Surabaya  –  Jakarta  aku  nunggu  bis  arah  Cirebon – Jakarta  jam  7  bis  yg  kumaksud  datang  ,jam  10.00  siang  aku   turun  di  Slipi  lalu  nyebrang  naik  kopaja  turun  di  Gan  Cit  aku  tlpn  pak H Thamrin  Dahlan  aku  bilang  dah  nyampe  ,beliau  bilang   di  lantai  3  Kompasianival  ,beliau  sedang  menjemput  Roni  gimbal  di bandara  ketika  jumpa  Roni  tidak  gimbal  pupus  sudah  trade  mark  dia ,hihihihi .

 

Sampai  ditujuan  pas  dekat  booth  Kenthir  aku  berpapasan  dengan  cewek  cantik  dg  kerudung  khasnya  dia  senyum  dan  menyapaku  ,memang  aku  orangnya  sok   akrab  dan  kepedean ,biariiiiin ……. lalu  ketemu  Lilih  Wilda  di booth  Rangkat  dg  dia  langsung  akrab  padahal  baru  ketemu  mungkin  karena  kita  chat  tiap  hari  di  epbih  barangkali , terus  aku  sibuk  kesana  kemari  narsiis  bareng  dg  kompasianer  dan  mas2  admin  mumpung  aku  kekota  maklum  dari  desa ,hehehe …….   dan  aku  cukup  puas  sementara  untuk  melengkapi  koleksiku  InshaAllah bila  tahun  depan   aku  masih  hidup  dan  sehat  akan  hadir …. aamiin.

 

Setelah  puas  keliling2  dan  narsis  juga  menyimak  acara,  tak  terasa  sudah  jam 9 malam   cewek   cantik  yg  berkerudung  khas  itu  datang  lagi  ,oooh …..  itukan  Arimbi  Bimoseno  aku  inget  di  epbih  aku  deketin  ternyata  dia  juga  mencariku  inget  katannya  aku  ingin  narsiis dg  dia …..ooh   so  sweet.  Memang  jam  11  siang  dia  pulang  , ternyata  dia  ramah  dan  aku  ditraktir  minuman  dia  cerita  anaknya  pertamanya  sudah  di SMP  ,owh …. kawin  muda  tah ,batinku  ketika  pamitan  pulang  dia  ngasih  2  kartu  yang  satu  alamat  rumah  dan  satu  lagi  nama  asli  dan kariernya  jadi  Arimbi Bimosena  nama  pena.

Aku dan  Arimbi Bimoseno ( dok .pribadi )

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KOMPASIANIVAL 2012: KOPI DARAT PERDANA
.
Oleh: Hastuti Ishere
18 November 2012
.
http://regional.kompasiana.com/2012/11/18/kompasianival-2012-kopi-darat-perdana-504084.html
.
.

13531977941239954546

Bareng Bu Arimbi Bimoseno

.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

.

KOMPASIANIVAL BIKIN HIDUP LEBIH BERARTI
.
Oleh: Rifki Feriandi/ 17 November 2012
.
http://media.kompasiana.com/new-media/2012/11/17/kompasianival-bikin-hidup-lebih-berarti-504011.html
.
.
13531575981852197283

Dengan Mbak Arimbi Bimoseno – penulis buku Karma

.

.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: